Archive | Penting Ga Penting RSS for this section

Dunia Informatika Begitu Luas, Namun Juga Begitu Sempit

Informatika (fokusnya ke Teknik Informatika aja yah, saya jebolan jurusan ini sih) atau yang di luar negeri lebih umum dikenal dengan nama computer science merupakan jurusan yang menarik banyak peminat. Lihat saja, di Indonesia sendiri, tampaknya hampir semua kampus punya jurusan yang diidentikkan dengan komputer ini. Kalo dulu ada jokes yang bilang, “Kampus ga punya jurusan informatika mah ga keren berarti kampusnya!”.. Belum lagi universitas-universitas di luar Indonesia sendiri.. Bisa dibilang banjir mahasiswa lha, bahkan saya melihat ada sebuah universitas untuk jurusan ini saja jumlah mahasiswa per angkatannya menembus angka ribuan. WOW!!!

Lalu kenapa sih orang berbondong-bondong masuk ke jurusan ini? Kalau saya boleh mengutip pengalaman pribadi, saya bisa agak terdampar di jurusan ini. Track record dengan belajar bahasa pemrograman pertama di umur 10 tahun, atau mengikuti beberapa perlombaan di bidang komputer semasa SMA tidak juga membuat saya ingin memilih jurusan yang berbau-bau nformatika sebagai pilihan pertama saya. Hubungan Internasional UI yang saat itu hanya mau menerima 26 orang sebagai anak asuhnya selama 4 tahun ke depan menjadi incaran saya. Tapi, kalau anda percaya Tuhan dan takdir, kedua konstanta inilah yang membawa saya masuk ke jalan lain. Formulir ujian untuk masuk ke universitas negeri paling terkemuka di Indonesia pun terbuang begitu saja tanpa pernah saya lihat apalagi saya isi.

Itu saya!

Bagi ratusan, ribuan, atau bahkan ratusan ribu mahasiswa lain tentu punya alasan yang berbeda-beda, dan bila saya boleh generalisasikan, alasan paling umum adalah: “Udah, ambil itu aja, gampang cari kerjanya, dibutuhin di banyak perusahaan”. Atau alasan logis namun tidak bertanggung jawab seperti,”Yah, mo gimana lagi, temen saya milihnya ini semua sih.” Atau alasan paling tidak logis yang pernah saya dengar:”Saya hobinya main game, jadi masuk sini aja lha, bakalan sukses pasti nanti”. (Seriusan yah, tiap kali denger alesan terakhir entah kenapa bawaannya pengen ngejitak tu orang, LOL). Alasan pertama yang paling menggiurkan semua orang!

Tidak bisa dipungkiri, setiap keahlian punya puncak kejayaannya! Kecuali keahlian dunia medis seperti dokter tentunya (ini yang bikin dokter selalu diminati toh). Beberapa puluh tahun lalu, sipil mendominasi, berikutnya manajemen yang jadi idola, saat ini dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi (btw, entah kenapa frase ini kok selalu muncul yah di latar belakang proposal TA, lomba, ato penelitian di bidang teknologi :) ), semua orang berbondong-bondong melirik informatika. Bank butuh sistem perbankan yang tak lepas dari tangan pakar informatika, perusahaan telekomunikasi butuh sistem komunikasi yang tentu juga butuh campur tangan pakar informatika, pemerintah butuh sistem pemerintahan, sekolah butuh sistem manajemen sekolah, bahkan kalo punya uang berlebih, tukang sampah pun butuh sistem persampahan! (yang terakhir ini ternyata ada lho!) yang semuanya butuh komputer, aplikasi perangkat lunak, basis data, jaringan komunikasi data, yang ujung-ujungnya pasti butuh tenaga ahli di bidang informatika! Jokes yang juga saya dengar 4 tahun lalu: “Kamu mau tau kerjaannya orang informatika ngapain? Bikin sistem informasi X. Dan silakan ganti X dengan kata benda apa aja”. Itung sendiri tuh kerjaannya seberapa banyak.

Berjalan di dalam dunia informatika membuat saya sadar dan percaya betul bahwa dunia ini SANGAT LUAS!!! Bahkan sama seperti kesadaran dan kepercayaan saya terhadap Tuhan Yang Maha Esa! Seorang dosen dan ahli yang sangat kompeten di bidang ini berkata,”Sebagai lulusan informatika, kamu seperti dewa. Dewa-dewa kecil yang mampu membuat apa saja, membuat sesuatu untuk melakukan apa saja. Dari tidak ada menjadi ada.” Well, saya agak kurang setuju sih dengan kalimat itu, sebenernya butuh sesuatu. Butuh komputer, sama listrik pastinya! Whatever, the point is, saya ingin meyakinkan kepada anda, bahkan untuk anda yang tidak percaya kebetulan, orang lain, maupun Tuhan, percayalah bahwa dunia informatika itu begitu luas hingga tidak mungkin dapat anda selami dan kuasai seluruhnya. :)

Tapi……….. Apa itu membuat alasan umum orang memilih dunia ini yang telah dikemukakan di awal tadi dapat terwujud? Apa iya gampang cari kerja dll? Ga juga yah, masih banyak toh lulusan-lulusan yang gagal meraup rezeki di dunia ini.

Ada satu hal yang terlupa! Dunia ini juga begitu kecil dan tidak berarti apa-apa, jika penghuni-penghuninya tidak pernah melihat dunia luar! Ahli informatika bisa membuat aplikasi paling spektakuler! Tapi apa? Ahli informatika bisa membuat jaringan komputer luar biasa! Buat apa? Ahli informatika bisa membangun basis data paling besar? Bisa buat nampung aer ujan ga? Kasian tuh banjir di mana-mana. LOL

Dunia informatika begitu terbatas! Saat beberapa tahun lalu saya berjalan di dunia ini. Saya merasa wow, bisa buat begini-begitu banyak yah! Luas yah! Jalan-jalan di sini juga ga abis-abis nih. Tapi saat ini, percaya atau tidak, 2 konstanta yang membuat saya terjerembab di dunia itu kembali menarik saya ke dunia lain. Saya tidak lagi berada di dunia yang sama. Dunia yang saya masuki lebih nyata, lebih terbatas, lebih asing tentunya. Tapi saat saya melihat dunia ini, saya melihat hal lain yang tidak pernah saya lihat sebelumnya, kemampuan seorang di dunia informatika tidak akan pernah bisa berguna, kalau orang tersebut tidak pernah keluar dari dunianya yang sangat terbatas itu.

Contoh paling sederhana tergambar jelas oleh pertanyaan dosen saya sekian tahun lalu: “Siapa yang dibutuhkan untuk membangun sistem informasi perbankan? Orang ekonomi atau ahli informatika?”. Dua-duanya donk! Begitu jawabannya, biar bisa jadi sistem yang bagus. Namun, masalah tidak selesai sampai di sana. Rekan saya yang sudah puluhan tahun malang melintang di dunia ini berkata,”Orang akuntansi sama orang informatika mah ga pernah bisa nyatu! Liat aja, suru bikin databasenya aja ga bakal bisa kelar itu!”

Silakan test orang informatika buat bikin database dari sebuah jurnal akuntansi. Sebagai ahli dan seorang profesional yang mumpuni (meskipun sebenernya baru lulus), pasti dia akan mendesign suatu database luar biasa canggih dan efisien. Tentu saja, bagi yang pernah mengambil kuliah basis data alias Database, bahkan melanjutkan dengan sistem basis data alias Database System, akan mendesign suatu basis data yang ternormalisasi dengan baik. 1NF: sempurna, berlanjut ke 2NF, bahkan melangkah ke BCNF dan selanjutnya. Dalam kacamata dunia informatika, wah ini sempurna sekali!

Namun, coba anda berikan design tersebut kepada seorang akuntan, niscaya sebuah coretan besar akan diberikan kepada anda! Design tersebut salah besar! Bahkan salah satu aturan dasar di dunia informatika bertentangan dengan aturan dasar di dunia lain. Kalau kedua orang itu disuruh duduk bersama membuat hal tersebut terealisasi, tentunya akan memakan waktu dan penjelasan yang cukup panjang bagi kedua belah pihak. Pihak informatika menanyakan kenapa tidak bisa dinormalisasi, sedangkan pihak akuntan akan bertanya kenapa harus dinormalisasi?

Ribet ah! Terbukti, sebuah pekerjaan besar pernah gagal hanya karena masalah sepele seperti ini.

Karena dunia informatika terlalu bulat, dan menutupi sebagian besar orang di dalamnya dalam bulatan tersebut. Saat seseorang selalu berjalan di dalam dunia tersebut, orang tersebut akan semakin menuju dunia yang sangat sempit.

Di lain pihak, di saat orang tersebut melangkah keluar, melihat dunia lain dan mempelajari dunia baru tersebut, orang tersebut akan dapat melakukan hal luar biasa karena dia membawa kemampuan dari dunia yang sangat luas keluar dari dunia yang sangat sempit tersebut (nah lho! bingungin ga sih kalimatnya).

In the end, I want to quote some words from an alumni of Stanford and Yale, and also my professor:

“You can do very great things by bringing in your ideas from your previous expertise into your new area; Because sometimes, common idea in one field can be a very significant idea for another field.”

It’s Just Wonderful

One day, I dreamt about my life, I walked in a really long way, so dark, so blurry.. It repeated, again, again, and again..

Ups, it’s not a dream. I was really walking in a very dark way, almost one hour to reach my home, took many energies, gave me many thoughts. I remember, I can see some palms on my left side, an empty road on my right. I remember, those were my last days in my high school. 70 was my best score for an exam, just once or maybe twice, 50 was my average score, and 40 was a common thing those days. I said, “Please get me out from this! Just get me out please”. I never remember how I can get out from those days.

I moved to a new city, started my new life. One year, two years, three years, and suddenly, those days came back again. I remember I walked in the dark. I knew nobody would come, nobody would help. I just walked to reach my home. It took many energy, and yes it gave me many thoughts. I said, “Please, I’m too tired for all of these.” It was different from my previous experience. I know how I could pass through all of those thing. I will always remember those people, those conversations, and those messages which escorted me to the end. I got through.

Several months later, I’m so tired with all of my grapples to grasp my dreams, I just wanna end it. Suddenly, I finished.

I started my new life, I opened my new chapter. It’s not easy, and yes, it was very difficult, it is very difficult. I looked for help. I searched for a salvation. I got none. I walk in my life day after day. I figured it out by myself.

Hey, now I am looking back. I am seeing many wonderful things. I am seeing them there. Standing to help me walk. Talking to guide my way. Listening to everything I say.

Now, I am really looking back at my whole life. Argh, so many hard times. So many accidents, so many problems. I hate it.

I am wiping my eyes, try to look more clearer. I am seeing that I can always run, walk, even crawl out from those days. So many laughs and smiles brightened up my hard times, a lot of flukiness, and countless solutions for all of my problems are available.

Now, you never know it. You never realize it. You never see it. It’s like a shit, a lot of it.

But, sometime, someday later, you can see that or maybe you can just feel it. It was not a trashy-low-stingy-scum-shit. No, it wasn’t. You just need to see it again with a smile and an open mind. It was just wonderful. Isn’t it?

Because it’s not a real shit, so Just Smile!

PS. If you really want to see those shits, just go to Taipei Zoo :)

Kisah Kasih di Negeri Orang

Dengan berbicara tergagap-gagap bahasa Indonesia yang campur aduk antara EYD, hokian, khek, dan mandarin, 2 orang wanita paruh baya mengajak saya berbicara tentang asal muasal saya terdampar di negara yang rawan di landa taufan Cina Selatan (ini bener ga yah?). Beberapa menit kemudian akhirnya mereka berbicara banyak tentang diri mereka dan kisahnya di tetangga tanah tiongkok ini. Masih jelas terdengar dari nada bicara mereka betapa mereka menyukai tanah air mereka (kalau mereka diizinkan menyebutnya seperti itu.)

Dua orang itu bukanlah segelintir orang yang ingin mengubah kehidupan mereka di pulau ini. Masih banyak, ratusan, mungkin ribuan orang berpasport Garuda berada di sini. Sebagian besar membuka usaha, yang lain menikah dengan orang Taiwan, sisanya belajar atau hanya mengikuti saudara-saudara mereka yang lebih dulu membuka jalan di tempat ini.

Kalau memang masih ada yang membeda-bedakan bangsa Indonesia dengan warga keturunan dan pribumi, bukan hanya warga keturunan yang banyak merantau ke negara ini. Orang Indonesia yang sering dibilang asli Indonesia pun banyak yang ada di sini. Tapi, nyaris tidak bisa dibedakan! Lha wonk, kalo ngomong mandarin kadang-kadang lebih bagus daripada orang Taiwan asli koq. Aceh, Medan, Manado, Lampung, Palembang, Jakarta, Surabaya, Semarang, hmmm, tampaknya hampir semua kota besar di Indonesia terwakili di sini. Lucunya, kalau ketemu di MRT atau tempat umum lain, niscaya saya tidak akan bisa membedakan mereka dari penduduk lokal.

Sekian hari di negara orang, saya belajar banyak, khususnya tentang negara saya sendiri, negara yang saya dapat karena saya secara kebetulan dan takdir menjadi tempat kelahiran saya. Hampir semua orang bilang: “Udah, di sini aja terus, ga usah kemana-mana. Enak lho, 1 tahun udah bisa beli rumah di Indonesia. Beli buat papa, mama, sodara-sodara. Seneng kan!” Buset dah, emangnya beli rumah kaya beli permen, tinggal nyomot. Zzzzzz. “Da gong, da gong”, kata mereka. Well, di Indonesia mungkin lebih dikenal dengan istilah magang tapi sama dosennya. “Bisa kaya, bisa dapet banyak duit.”, ujar mereka lagi. Dan selidik punya selidik, iyes! Benar sekali, belum satu bulan dan saya sudah merasakan bagaimana uang benar-benar mengucur deras di tempat ini.

Jelas berbeda dengan celotehan rekan-rekan saya di tanah air yang uang beasiswa tak kunjung turun, dana riset abadi saking ga pernah cair-cairnya, atau masalah gaji asisten (atau beberapa orang berargumen uang saku asisten) yang bahkan jauh sekali di bawah UMR (UMR aja udah di bawah biaya hidup sehari-hari :( ).

Rekan-rekan di tanah air mungkin sering sekali berceloteh pentingnya mengabdi pada bangsa dan negara, berempati, toleransi antar umat beragama, bahkan hingga kepedulian sosial terhadap sesama. Bahkan tidak sedikit selentingan miring yang sering dikeluhkan para warga negara Indonesia tentang rekan-rekan yang berada di luar ibu pertiwi. Tidak nasionalis! Tidak cinta tanah air! Maunya enak aja! dst dll dkk.

Yah, memang, kebun tetangga lebih hijau dari kebun sendiri, tapi kebun sendiri selalu lebih nyaman dan saya yakin sebagian besar orang akan berpikir seperti itu. Para perantau di tempat ini ada yang sudah 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun, bahkan 20 tahun lebih tidak pernah kembali ke negeri asalnya. Kalau ditanya, jelas lebih bagus di sini daripada di tanah air, tapi sedihnya mereka sering dihakimi saat kalimat tersebut diucap. Tidak ada yang bertanya seberapa besar keinginan mereka untuk kembali ke kampung halaman. Tidak ada. Toh buat apa? Lha wonk, lo udah berkhianat. Zzzzzzz….

Beberapa waktu lalu warga Taiwan ada yang meninggal di negara lain, 2 orang. Jumlah yang sangat sedikit, bahkan untuk negara sekecil Taiwan! Tapi anehnya, dokter dan staf-stafnya dikirim ke sana untuk mengangkut jenazah mereka. Biaya ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah (pemerintah Taiwan tentunya).

Beberapa waktu lalu warga Indonesia ada yang meninggal di Taiwan, 6 orang. Jumlah yang sangat sedikit, apalagi untuk negara sebesar Indonesia! Jadi tidak aneh kalau pemerintah Indonesia tidak mau tahu. Hmmm, pertanyaannya sebenernya sih harusnya: pemerintah Indonesia tahu ga yah ada warganya yang meninggal di sini? Kayanya ga deh.

Ironis.

Hari ini seorang menteri yang katanya sengaja dinaikkan karena alasan politis berceloteh tentang sesuatu yang sangat offensive! Menurut dia, dia hanya mengutip kata-kata menteri lama. Menurut saya, dia tidak punya cukup pemikiran untuk membatasi kata-katanya. Atau mungkin dia lupa kalo dia menteri? Musti nonton spiderman deh kayanya dia. Di balik kekuatan besar, terdapat tanggung jawab yang besar pula!

Hari ini seorang yang saya yakin dia menganggap dirinya terpelajar menulis komentar di sebuah tulisan lain yang membuat saya mengangkat sebuah alis dan berkata,”Apa sih? Ga berbobot amat komentar dan emosinya”.

Saya yakin kedua tokoh di atas yang tentunya bukan tokoh fiktif merasa kalau mereka pantas dianggap warga negara Indonesia sejati! WNI yang berjuang mati-matian di negara sendiri. Sayangnya, orang-orang seperti itu lah yang membuat para perantau, termasuk saya, malas untuk kembali.

Kami sudah berkhianat, kami sudah dibuang, kami bukan lagi siapa-siapa. Yang kami bisa hanyalah mengirimkan sejumlah mata uang asing ke tanah air. Mengubahnya menjadi rupiah demi rupiah dan berharap semoga itu semua bisa menjadi devisa negara. Kami berharap kami bisa berguna. Kami berharap kami bisa kembali diakui. Sayangnya sebagian besar harapan dari kami pupus di tengah jalan, dan memilih mengganti identitas kami. Banyak passport kami yang sudah berganti sampul. Sang Garuda sudah mengepakkan saya dari sampulnya. Beberapa dari kami masih mencoba bertahan, dan berharap suatu saat bisa kembali.

Tapi di tengah semua cercaan, halangan, dan kesibukkan yang kami hadapi, kami tidak pernah bisa melupakan asal usul kami. Seperti kata saudara saya yang sudah lebih dari 10 tahun meinggalkan Indonesia dan sekarang sedang mengubah status kewarganegaraannya: “Meskipun orang Indonesia buruk-buruk dan jelek-jelek kelakuannya, kita di sini ga bisa kalau ga kasihan sama sesama kita. Kasihan deh kalau ada yang kesulitan di sini.” Kami tidak bisa menolong 200 juta jiwa lebih yang ada di lebih dari puluhan ribu pulau. Kami tidak bisa membayar hutang-hutang puluhan tahun pemerintahan yang carut marut karena KKN. Tapi setidaknya kami berusaha berbuat yang kami bisa.

Saat orang berkata, “Buat apa keluar negeri? Buang-buang duit aja!”. Bahkan teman Taiwanese saya bisa menjawab dengan pasti, dengan bahasa Inggrisnya yang terbata-bata,”it can open your eyes, open your minds, make you …….I cannot.. I cannot say the word”. Okay, I say, “open your minds” is enough for define those things. Jadi, buat teman-teman saya di US, UK, Belanda, Italy, Singapore, Malaysia, Australia, Cina, Jepang, Korea, bahkan yang saat ini sedang menyusuri jalur Praha-Berlin-Portugal-Spanyol, semangat lah kawan!

Your way can open your eyes, your minds, and of course your heart!

Didedikasikan untuk 6 orang Indonesia yang hari ini meninggal akibat runtuhnya konstruksi jembatan di Nantou County.

Halo Taipei!

Jakarta, 25 September 2010, 14.20: CI0762 terbang membumbung tinggi di atas Cengkareng. Yah, A330 China Airlines sukses membawa saya meninggalkan tanah air tercinta. Meskipun banyak boroknya, tapi masih pantas lah negara ini mendapatkan sedikit kasih sayang saya (ceile, gw siapa lagi??). Bye, Indonesia!

Taipei, 25 September 99, 21.42: CI 0762 sukses mendarat di Taoyuan International Airport (TPE). And, yes! It’s (almost) better than CGK. Senang? Iyes. Sedih? Iyes. Saya meinggalkan banyak mimpi-mimpi saya, banyak cita-cita saya, banyak teman-teman saya, dan yang terpenting, saya meninggalkan pas foto saya yang harusnya dipake buat daftar ulang (dooh…)

Eh, sebelumnya yah, saya mo membenarkan diri dulu. Itu bener koq, 25 September 99. Bukan karena saya sala naek pesawat yang ternyata mesin waktu, bukan!. Bukan juga karena pesawat saya bergerak melewati kecepatan cahaya dan akhirnya waktu bergerak mundur. Bukan! Tapi, Taiwan saat ini memang ada di tahun 99!!! Bukan tahun 1999 atau tahun 2099 tapi bener-bener tahun 99!!! Pertama kali saya sadar tahunnya berbeda adalah saat saya mau apply visa UK saya dan ternyata di surat pernyataan Banknya pake tahun 99. What? Tapi teringat teman saya yang dari Ethiopia yang pernah bilang bahwa di negara dia sekarang masih tahun 2002, so saya berasumsi tahun Taiwan masih 1999. Tapi ternyata asumsi saya salah. Koreksi 1900 tahun terhadap asumsi saya.

Mendadak, tanpa persiapan dan penuh kejutan. Sambutan di Taiwan cukup ramah. Dengan modal Mandarin yang secukupnya. Shen me (apa)? dan wo bu hui shuo zhong wen (saya tidak bisa berbicara bahasan Mandarin) sukses membuat saya bertahan hidup di hari-hari pertama. Lucunya, ternyata orang Taiwan tidak dapat berbahasa Inggris dengan baik (atau kalo boleh saya bilang: jelek banget). Ga semua sih, setidaknya dosen-dosennya dan pegawai imigrasinya jago-jago Inggrisnya. Tapi tetep aja, sisanya kaga ada yang bisa. Zzzzz…

Untungnya, saya punya senjata andalan ;) . Dan dengan senjata andalan saya ini, saya berhasil mengelilingi Taipei dalam sekejap!!! Yang paling fantastis dan membuat saya takjub di awal-awal kehidupan saya selama sekian tahun ke depan di kota ini adalah MRTnya. Mass Rapid Transportation ato sering dibilang Metro Taipei! Gimana engga, sistem yang terdiri dari 4 moda ini: bus, train, subway train, high speed train ini bener-bener terintegrasi penuh! WOW! Dan, saat anda selesai naik satu moda dan ingin melanjutkan naik moda yang lain, maka anda akan mendapatkan diskon! Contohnya. setelah naik subway dan melanjutkan naik bus, saya hanya cukup membayar 7 dollar, 50% dari harga sebenarnya. Cukup fantastis kan! Dan, semuanya itu cukup menggunakan 1 kartu. Bukan Visa, bukan Mastercard, bukan juga HSBC ataupun BCACard, tapi EasyCard, powered by Metro Taipei! Hahaha. Salut banget deh. Bahkan saya bilang BTS Bangkok kelibas habis! Kalo sama MRT Singapore, jangan dibandingin ah. Beda kelas.

Pesona lain dari Taipei adalah….. Jreng Jreng Jreng!!! Taipei 101!!!!!!!!!! Bangunan yang terdiri dari xxx lantai ini (hayo tebak berapa lantai ;>) bisa juga berfungsi sebagai jam matahari! Dan mantan gedung tertinggi di dunia ini (kesaing sama Dubai yang jadi juara 1 sekarang) menggabungkan mall dan gedung perkantoran! Mall kaya apa sih? Elite pastinya. Yakinlah, orang punya duit aja bakal mikir 3 kali buat belanja barang-barang di sini. Kecuali koruptor dan para DPR yang hidupnya dari uang jarahan masyarakat yah. Beda soal itu. Hush, jangan berpolitik di sini :p.

Saat saya melangkah masuk ke kampus baru saya: ugh… Tuanya gedungnya. Bahkan beberapa gedung di ITB tampak lebih menarik, ups maksudnya banyak gedung di ITB yang lebih menarik di bandingkan gedung-gedung di kampus baru ini. Kusem, debu, coklat, ga berwarna deh….. TAPIIIIII……. jreng-jreng-jreng. Pintu labnya: RFID boooo.. Dan RFIDnya adalah xie xen zhen (wah, yang ini ga tau nulisnya bener ga) alias kartu mahasiswa. Setelah dibuka. Jreng-jreng-jreng. WOW. Labnya maha dahsyat! Di lab saya yang bernama Intelligent System di divisi Control and System, Departement Electrical Engineering, isinya sekian puluh robot yang masing-masing dilengkapi IP Camera sebagai mata robotnya dan semuanya bisa dikendalika via WiFi. Well, bayangin aja IP Camera yang satunya 10 jutaan (ini IP Camera yang bisa dikontrol naik turun lho!!!), ada minimal 7 robot, udah 70 juta! Ckckckck. Dan itu di sana bisa dibilang jadi maenan aja. Buat mahasiswa-mahasiswa ngoprek! Alat risetnya, wih… Jangan ditanya deh. Saya pun terdiam di bawah AC yang menyala setelah laptop saya menunjukkan 20Mbps masing-masing untuk upload dan download dari internet. Wuzzzzzz. Waktu teman saya dari negara yang carut marut koneksi internetnya bilang: awas bos, jangan lupa pake helm!!! Hahaha.. Ngebutnyooo…

Pulang pergi dari kampus yang berjarak hampir 11 Km dengan Metro hanya membutuhkan waktu kurang dari 10 menit, sudah termasuk waktu tunggu keretanya. Wah, ga dunia maya, ga dunia nyata, kehidupannya berlangsung sangat cepat. Dan yah, tulisannya juga kotak-kotak tak terbaca. Dan ini yang membuat saya hanya bisa terdiam menatap gambar-gambar di pinggir jalan :) .

Alkisah, berhubung besok saya ada ujian, sekian dari Taipei, sampai jumpa di lain kesempatan! Dan mari kita menyapa: Halo Taipei! Ni hao ma? :)

P.S. kalo mo nembak cewe, keren banget tuh di Taipei 101 :)

Hadiah Kecil

Siang hari, kami tidak tahu lagi mau ngapain di GI, akhirnya kami memutuskan melangkahkan kaki ke Gramedia. Baru sekitar 3 meter dari pintu masuk, teman saya membaca buku tentang cinta dan kasih sayang, lalu dia berkata ke saya, “Mu, gw pernah baca kalo berdasarkan cara mengungkapkan kasih sayangnya, orang itu bisa dibedakan jadi 7 jenis”. Teman saya lalu menyebutkan ke 7 jenis tersebut dan di ujung kalimatnya dia bilang,”Kalo lo termasuk yang mana mu?”. Saya sebenernya ga inget juga 7 yang dia omongin apa aja (ato malah cuma 5 yah? saya ga nyimak banget tuh), tapi waktu dapet pertanyaan kaya gitu, refleks saya bilang “Gift, ca. Lo apa?”

Kenapa refleks? Karena jelas sekali kalau saya menyatakan rasa sayang saya ke orang itu lewat barang. Terlepas barang itu kartu ucapan, gantungan kunci, baju, boneka, kalung, atau hanya sekadar makanan (eh, tapi buat yang ngerasasain crab party terakhir kali dari saya, itu bukan cuma “hanya sekadar” lho!!! Mahal tuh.. Hahaha..). Intinya, kalau saya sayang ke orang (orang di sini definisinya mencakup cowo juga lho, bukan cuma cewe aja) pasti saya suatu saat akan tergerak untuk memberinya sesuatu. Makanya, waktu ditanya kaya gitu sama temen saya, saya bisa dengan reflek bilang “gift”. Hadiah. Karena saya senang memberi hadiah.

Berdasarkan pengalaman, biasanya mah orang itu senang mendapatkan perlakuan yang sama dengan perlakuan yang diberikannya kepada orang lain. Begitu juga dengan saya, dan saya senang menerima hadiah (apalagi kalo sesuai wish list saya di amazon.com :) ). Nah, dalam waktu kurang lebih 2 minggu ini saya senang karena saya menerima cukup banyak hadiah (tapi ga tau deh yang ngasih terpaksa ato kaga *lirik yang ngasih pisgor* :p). Dan, yang membuat senangnya itu bertambah adalah, saya menerima apa yang sangat jarang saya terima, yaitu hadiah yang benar-benar sesuai dengan apa yang saya butuhkan dan saya suka (definisi “suka” di sini: saya bakal sering bawa atau pakai barang tersebut). Nah, yang memenuhi definisi sebelumnya kebanyakan adalah barang-barang elektronik, well bisa dibilang hampir 95%nya barang elektronik dan dalam jangka waktu tersebut saya menerima 3 barang tersebut. They are really sweet things from my friends :) .

1. Victorinox SwissFlash

Suatu hari teman saya dari Negeri Kangguru bilang, “Muenk, lo kapan ke Jakarta? Gw ada titipan buat lo?”. Saya bingung, karena ga ada angin ga ada ujan koq tiba-tiba ada titipan. Coklat kali saya mikirnya waktu itu. Tapi dia bilang, “Gw ga tau lo suka ato ga, tapi waktu gw liat barang ini gw mikir cocok banget ini buat lo”. Nah! Teman saya dari 7 tahun lalu yang mengalami nasib hampir serupa waktu SMA dan kenal saya sampe ke keluarga saya, jelas ga mungkin bilang coklat sebagai barang yang cocok buat saya. Boneka panda ga mungkin juga. Apa yah? Dan pikiran paling ujung saya waktu itu adalah Arduino itu juga udah wild guess banget. Setelah sekian minggu kemudian, saya diberikan satu bingkisan sama mama teman saya itu dan ketika saya buka. WOW! I like it, really!. Okay, jelaslah sudah kenapa dia bilang, “Lo ga boleh berangkat sebelom dapet titipan gw, itu nanti mudah-mudahan bakal berguna di sana.” Dan, yeah, kata-kata dia sangat tepat sekali! Thank you so much win!

2. Seagate FreeAgent Go

“Sam, ini buat kamu dari orang-orang yang deket sama kamu di sini.” Saya ga tau siapa saja orang-orang yang dimaksud, tapi setelah teman saya berkata seperti itu, saya ditelpon oleh teman saya yang lain. “Sam, sori yah gw musti pulang cepet tadi. Itu yah buat kamu, soalnya kemarin Ko Fen-Fen bilang kamu butuh itu jadi kita beliin deh. Semoga berguna nanti.” Saya bingung, karena saya ga pernah bilang kepada Ko Fen-Fen ini dan saya nebak-nebak apa yah yang dibilang barang yang saya lagi butuh? Dan barang di tangan saya itu masih terbungkus rapi dengan kertas kado bergambar jam tangan. Wild guess: jam tangan, masa iya? Dan karena saya ga tau apa saya bilang aja, “Saya belum buka ci kadonya. Nih masih duduk manis di tangan saya……….” Dua jam kemudian, di saat saya membuka hadiah tersebut, saya tercengang, wow. Portable HD? Saya sudah punya eksternal HD 500GB dan mereka tahu dan saya tetep di kasih? WOW! Pertanyaannya adalah, tau dari mana mereka semua harddisk saya udah merah. Sesek banget data di laptop dan harddisk external saya dan hadiah ini bener-bener berguna sekali. Bahkan saya sendiri ga sadar kalo saya butuh itu, tapi orang-orang terdekat saya tahu kalo saya butuh. Hahaha.. Dunia memang penuh kejutan. Terima kasih banyak untuk Ko Fen-Fen, Ci Suan, Ci Yenny, Kak Evalyn, Ci Sandra, Ko Yung-Yung, dkk.

3. “Bunglon” Clock

Nah, ini dia yang paling lucu dari semua. Berawal dari jokes di antara kami, temen saya tiba-tiba nanya,”Gw mo bliin lo kado ni, tapi apa yah?” Dan beberapa hari kemudian dia BBM,”Gw udah bliin lo kado ni, ga tau d lo bakal suka apa kaga. Tapi pas gw liat gw suka banget, lucu soalnya.” Saya bingung, barang apa yang bisa dibilang lucu? Entah kenapa saya ngebayanginnya dia ngasih kucing! Hahaha.. Setelah ditimbang-timbang, ga mungkin banget toh, trus apa yah? Yang ini wild guess saya pun tak bisa menghasilkan apa-apa. Sampai serah terima barang tersebut dan saya melihat, jreng jreng jreng. Wohooo.. Saya kagum, koq bisa-bisanya teman saya yang satu ini memberikan hadiah seperti ini. 1 barang, 8 warna, 8 suara! Keren ga tuh? Dia sih promosiinnya keren banget kesannya :) .. My conclusion: simple, lucu dan semoga bisa menggantikan weker saya yang tiap kali harus diobeng dulu biar jalan, hahaha. Thank you CP! Semoga anda memberikannya tidak dengan hati terpaksa. LOL.

Tiga hadiah yang saya tidak sangka sebelumnya, hadiah yang kalau diliat dari ukurannya sih, tidak seberapa, kecil-kecil semua gitu koq, tapi hadiah yang manis dan berarti buat saya. Semoga bisa berguna buat saya! Jelas berguna lha, sekarang aja semua udah diberdayakan gitu.. Hahaha..

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,319 other followers