2011 Taiwan Hakka Festival
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah bangsanya sendiri. Kurang lebih 10 tahun lalu, hampir setiap minggu saya mendengar kalimat tersebut. Yap, pada saat upacara bendera masa SD. Setiap kali memasuki saat mengheningkan cipta, sang pembina upacara biasanya memberikan pengantar kalimat tersebut, yang dilanjutkan dengan, “Marilah kita mengenang jasa para pahlawan kita yang telah gugur guna merebut kemerdekaan bangsa ini”.
Hmm, sayangnya sekian tahun upacara bendera, ratusan upacara bendera, ribuan kali menyanyikan lagu Indonesia Raya tampaknya ga membuat saya benar-benar merasa adalah bangsa Indonesia. Yah gimana, tiap kali ketemu orang diteriakin “Cina”. Meskipun saya tahu, seperti kata guru SMA saya dulu, “Kalian kalau bilang orang Cina, emangnya kalian kalau ke negara Cina diakuin sama mereka? Pasti ga!” Tapi, di sisi lain, di Indonesia juga ga diterima seutuhnya, Bu. Gimana donk? Jadi menurut saya, yang paling susah kalau di formulir ada bagian: Suku bangsa. Duh, males banget saya ngisi formulir itu. Pernah suatu kali saya isi aja “Indonesia”. Alhasil, dikembaliin lagi sama yang meriksa. Dooh.
Nah, jadi, silakan klaim bahwa saya tidak beridentitas. Saya terima kok. Bukan bangsa Indonesia, bukan juga bangsa Cina, apalagi bangsa Amerika atau Australia. Nah, berhubung orang tua saya orang khek, atau bahasa kerennya adalah Hakka. Saya merasa sedikit banyak juga menjadi bagian suku bangsa yang satu ini donk. Jadilah, begitu ada tulisan “2011 Taiwan Hakka Festival” di MRT, saya semangat buat dateng ke TKP. Dan tulisan ini bukan ajang rasis-rasisan ngomongin bangsa ato suku bangsa xyz, tapi cuma mau nulis yang unik-unik dari acara festival ini aja. So, here we go.
Taichung Touch My Heart
For me, the best thing in traveling is a very unique meeting with other people. Every meeting will give you a new great thought and widen your perspective. In my last vacation, I went to a city called Taichung (台中), the third largest city in Taiwan. Unlike Taipei, Taichung has a very good weather. Its sunshine is a little bit too much at noon, but, who cares? I’m so bored with couple months of wind, rain, and low temperature in North Taiwan (especially Taipei), so that the sunshine gave me a little refreshing
. And, after all, this trip face me with many great people.
Taiwan Touch Your Heart: Ximen
Masih di Kota Taipei, ada satu daerah yang bernama Ximen. Turis-turis, terutama yang muda dan berkocek tipis, tidak boleh melewatkan tempat yang satu ini. Kenapa? Karena tentu saja, Ximen salah satu tempat gaulnya anak muda Taipei, kawasan hiburan, dan juga belanja. Beberapa orang menyebutnya Shibuya versi Taipei, saya lebih suka memanggilnya sister city Siam Square Bangkok. Ya, sebelas dua belas dari beberapa aspek, tentu dengan perbedaan yang menjadi ciri khas masing-masing.
Ximen kalau ingin diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia secara bebas, berarti pintu/gerbang Barat. Yupe, posisi tempat ini memang di ujung Barat Taipei, sekitar 1 Km dari sungai yang membatasi Taipei City dan Taipei County. Ximen dapat ditempuh dari Taipei Main Station dengan berjalan kaki (yang akan memakan waktu sekitar 30-45 menit). Jika anda memilih cara ini, bersiaplah menikmati suasana daerah Glodok Jakarta, ataupun Otista Bandung. Di siang hari, sepanjang jalan akan ada tempat-tempat belanja yang saya bilang terasa lebih kuno dibandingkan Taipei pada umumnya. Di malam hari, dan kemungkinan seperti itu, karena Ximen ramai di sore-malam, anda hanya bisa melihat pintu-pintu besi yang tertutup, beberapa 711 dan Family Mart, serta lampu jalan yang akan setia menemani perjalanan anda. Cara lain, yang umum dipakai oleh semua orang adalah lewat MRT atau yang di sini lebih dikenal dengan nama cie yin dengan mengambil jalur biru dan turun di stasiun Ximen.
Keluar dari stasiun bawah tanah, anda akan disambut patung hijau lucu ini:
Yap, si hijau maskot Ximen yang saya juga ga tau apa namanya. Kok rame sih pintu stasiunnya? Nah, itu dia! Pemandangan seperti itu, atau seperti ini:
sudah menjadi pemandangan biasa di Ximen. Sekitar ribu orang tiap hari datang ke sini, dan saya juga ga tau mereka sebenarnya ngapain aja. Eh iya, masih ingat Eslite? Yah, ini memang Eslite yang sama dengan Eslite si toko buku 24 jam itu. Bedanya, saya tidak melihat toko buku di bangunan ini, murni menjual pakaian, tas, sepatu dan produk-produk menempel di tubuh lainnya (atau saya kelewat liatnya yah?). Masuk ke lorong Ximen, serasa berjalan di Pasar Baru Jakarta, atau CiWalk. Outdoor alley dengan toko-toko di kiri dan kanan yang menjajakan produk-produk mereka. Selain itu, restoran-restoran, tempat menonton 4D, bioskop dan juga guess what… Tempat fitness yang stay tune hingga jam 12 malam mejeng di tempat ini. Gerobak-gerobak penjual makanan tentu tak lupa menemani perjalanan anda, khas pasar baru sekali ini.
Ummm, di awal saya bilang turis berkocek tipis? Nah, buat anda yang merasa kehabisan uang di Taipei dan berniat cari penghasilan, lupakan part-time job berjualan roti, atau mencuci piring di restoran sebagai pengganti uang makan anda. Anda punya kemampuan? Pantomim? Main gitar? Nyanyi? Apapun ini, silakan tunjukan kemampuan anda di sini, dan ratusan atau bahkan ribuan orang akan melihatnya. Contoh saja teman kita turis dari belahan benua lain yang mencoba peruntungannya di Ximen:
Bukan, dia bukan sedang berdoa kepada Tuhan YME. Dia hanya memainkan tujuh bola-bolanya dengan tangan, kaki, kepala dan semua anggota tubuh lainnya. Hasilnya?
Anak ini hanya satu dari sebagian besar orang yang turut memberikan uang untuk mengapresiasi kemampuan si turis ini. Prediksi saya, dalam gayung merah di depan si turis itu ada sekitar Rp. 50.000,- dalam waktu sekitar 1 jam. Penonton yang terlihat di foto mungkin sedikit, tapi yang penonton di kanan kiri belakang saya yang tidak tertangkap kamera? Bejibun!
Sekian puluh meter, tampak seorang bapak sedang menggambar dengan lilin, yang juga tak luput dari perhatian para pengunjung di tempat ini. Cukup jauh dari tempat kedua orang ini, seorang bule dengan lucunya sedang bermain gitar, dan bernyanyi ala koboi sambil jingkrak-jingkrak. Sayangnya, tampaknya dia mengambil spot yang salah dan kurang mendapatkan peminat. Poor you.
Memang Ximen bukan satu-satunya tempat yang bisa dijadikan tempat unjuk kemampuan, masih ada beberapa tempat lain yang memungkinkan hal tersebut. Di sini, anda juga tidak serta merta langsung bisa masuk IMB atau idol show lain jika menunjukkan kemampual luar biasa. Tapi yang pasti, ratusan orang akan melihat anda, tidak peduli kapanpun anda unjuk gigi. Sabtu? Minggu? Senin? Selasa? 7 hari seminggu, orang-orang senantiasa datang ke tempat ini dan siap menjadi penonton anda.
Bosan dengan keramaian? Anda bisa menyebrang ke tempat unik ini:
Hanya beda sekitar 10 meter dari pusat keramaian, anda bisa menikmati suasanya yang cukup berbeda. Kawasan yang lebih sepi ini menampilkan beberapa toko yang menjual pernak-pernik dan di ujungnya terdapat tempat makan yang terdiri dari beberapa kafe. Cukup nyaman untuk mengobrol bersama teman, keluarga, pacar, sahabat, atau kenalan yang baru saja anda temukan di tempat fitness.
Nyummy.. Selain itu ada apa lagi? Anda dapat melihat di peta yang ada di sudut-sudut tempat ini, atau di depan patung hijau si maskot tadi. Di peta tersebut, tampak semua hal yang bisa anda kunjungi di Ximen ini. Sayang kayanya peta yang satu ini sudah agak kotor.
Kesimpulannya: tempat ini memang tempat yang cocok untuk turis-turis yang suka suasana kota yang penuh dengan hiruk pikuk dan kesibukan. Tidak peduli weekday ataupun weekend, anda akan dijamu oleh lalu lalang sekian ribu orang di sini. Toko-toko yang menjual segala jenis barang, mulai dari tas hingga sepatu, handphone hingga lingerie, tersedia di tempat ini. Dan tentunya, tempat makan yang sangat beragam siap mengisi perut anda. Selain itu, kalau anda merasa tidak punya kegiatan, silakan lihat aktivitas orang lain yang ada di tempat ini dan tentunya street performance yang kadang akan bisa membuat anda terpesona, ternganga, atau sekadar tersenyum simpul. In here, Taiwan will touch your heart with her busyness. Enjoy!
Taiwan Touch Your Heart: Danshui
Setelah beberapa bulan berada di negara yang baru, akhirnya saya memutuskan untuk mulai menulis tentang beberapa tempat yang ada di Republic of China ini. Setelah berkunjung ke sekian tempat dan sekian kota, saya akhirnya memutuskan Danshui (淡水) sebagai lokasi pertama yang akan saya ulas.
Hampir seluruh buku, website, dan petunjuk lain tentang Taiwan menuliskan bahwa National Palace Museum (故宮, baca: gu gong alias kukung dalam bahasa Indonesia) sebagai tempat yang harus dikunjungi oleh setiap turis yang datang ke Taiwan. Menjadi peringkat ke 11 dalam daftar museum dengan pengunjung terbanyak di dunia mungkin membuat tempat tersebut terkesan sangat luar biasa. Tapi, entah kenapa, pikiran saya kok lain yah. Saya merasa Danshui ini lebih oke!
Kenapa? Okeh, kita mulai ceritanya…






