Made in China

Well, siapa sih yang ga pernah liat 3 kata yang menjadi judul ini. To be honest, mungkin saya sedikit typo. Mungkin saja 3 kata yang anda lihat: “Made on China”, “Maed in China”, “Mde in China”, atau jutaan kombinasi lain yang menyerupai 3 kata di atas. Produk buatan negeri tiongkok atau dikenal dengan nama People’s Republic of China membanjiri seluruh dunia dan memang bukan hal yang baru lagi ini mah. So, artikel ini agak basi yah kalau hanya menuliskan banyaknya produk buatan PRC di segala penjuru dunia saat ini. Bicara soal kualitas: “It’s horrible!”. Banyak yang bilang 90% produk buatan negeri dengan penduduk terbanyak ini gampang rusak dan bahkan bukan rahasia umum lagi kalau teman kamu mendengar kamu mau beli barang buatan negeri ini, mereka akan bilang: “Jangan, cari yang lain aja, itu buatan Cina”. So, kenapa hampir semua perusahaan tetap berlomba-lomba memproduksi barang mereka di sana? Kenapa “Made in China” masih meraja rela?

Jawaban yang sangat umum: MURAH. Semurah apa sih?

Sebelum kita bicara produk dan harganya, saya mau “curcol” dulu ah. Masa-masa kuliah saya dibayangin dengan “entrepreneur boom”. Singgah di salah satu universitas yang kata orang terdiri dari putra-putri terbaik bangsa, saya melihat bagaimana putra-putri tersebut ingin melakukan sesuatu yang berbeda dari putra-putri bangsa lainnya. Salah satu alasan yang cukup mulia: merasa sudah bersalah merebut kesempatan belajar di universitas terkemuka, mereka ga mau juga bersalah merebut lapangan pekerjaan dari putra-putri bangsa lainnya. Alasan yang pragmatis dan tidak terlalu mulia: mau cepet kaya dan males kerja sama orang :D.

Seminar, kuliah, training, wejangan-wejangan tentang pentingnya membuka usaha pun digalakan. Salah satu poin menarik dan juga agak penting dalam berusaha yang pernah saya dengar: buatlah sebuah produk!

Hal tersebut diamini beberapa pihak lain dan mereka berusaha membuat sesuatu. Alasan sederhananya, kalau membuat produk, produk itu bisa dikemas, bisa dipasarkan ke masyarakat, dan pada akhirnya masyarakat dapat mengenal perusahaan anda dari produk anda. Produk anda laris di pasaran, perusahaan anda makin dikenal, perusahaan anda mengeluarkan produk baru, produk baru tersebut laris karena nama perusahaan anda sudah nempel di benak masyarakat.

Microsoft dengan Windowsnya, Rovio dengan Angry Birdsnya, Cisco dengan routernya, Apple dengan iPhonenya,  GlaxoSmithKline dengan Panadolnya (hayo ngaku, siapa yang pernah denger GlaxoSmithKline? wong saya aja tau nama perusahaan ini setelah salah satu teman saya mencari sesuap nasi di sana :)).

Kembali ke entrepreneur boom tadi, ada yang bertanya, bagaimana kalau perusahaan yang mau saya buat ingin bergerak di bidang jasa? Lihat IBM yang justru menjual produknya dan malah mengembangkan service businessnya. Ada juga Accenture, atau TSMC. Well, untuk mempersingkat tulisan kali ini, saya membela diri, “waduh, topik kali ini bukan tentang entrepreneur, so silakan tanyakan ke trainer terdekat kalian yah :p”.

Nah, pikiran membuat produk bukan hanya diamini perusahaan besar atau calon wirausaha di Indonesia saja. Banyak kok yang berpikir seperti itu. Lalu, kalau produk anda bukan barang abstrak semacam aplikasimusik, ataupun video, anda akan berpikir, bagaimana saya bisa membuat produk saya dalam jumlah yang banyak?

Anda pun mulai mencari-cari cara untuk memproduksi produk anda dan sayangnya anda mendapati rata-rata perusahaan manufaktur mau memproduksi produk anda asalkan jumlahnya cukup banyak. Cukup banyak di sini bukan 100 atau 200 buah, tapi ordenya ribuan atau bahkan puluhan ribu. Anda menego dan berharap dapat memproduksi dalam orde yang lebih kecil dari persyaratan pabrik, tapi apa daya, si pabrik ngotot dengan jumlah minimal mereka dan mereka hanya mau menurunkan jumlah tersebut dengan syarat harga per-buahnya dinaikkan. Anda mulai bertanya-tanya berapa biaya perbuah bila anda hanya mau membuat 100 buah. Maklum, anda kan baru mulai bisnis, baru mau mengetest pasar lha istilahnya. Masa mesen 1.000? Mending kalau jualan kacang, 1.000 kacang mah mungkin masih masuk akal, lha kalau jualan gantungan kunci, atau memulai jualan kamera digital produk dalam negeri misalnya.

Setelah negosiasi yang cukup alot, pihak manufaktur pun menyanggupi jumlah pesanan anda yang sangat sedikit itu. Namunnnnn……… harga yang ditawarkan amat sangat tidak realistis. Masa 1 gantungan kunci untuk jumlah minimal 100 buah dihargai 10 ribu? Giman bisa bersaing? Itu toko di mall aja jualan cuma 9.500 lho!!! Bahkan kalau anda jual modal, belum bisa ngalahin toko di mall itu.

Yeap, dan kasus ini bukan hanya menimpa anda. Jutaan orang lain (lebay mode: on :D) juga mengalami hal serupa.

Coba kita lirik kembali pertanyaan di bagian awal tulisan ini. Semurah apa sih produk butan cina itu?

Anda pernah buka DealExtreme? Atau Alibaba? Anda pernah membeli kamera digital seharga 300ribuan? Atau tablet Android seharga 400ribuan? Well, welcome to China :).

Saat berada di tengah-tengah industri manufaktur, anda baru akan menyadari seberapa murah sih produk “Made in China” itu dan yang fantastisnya anda akan mendapatkan harga yang tidak jauh berbeda meskipun anda memproduksi dalam jumlah sedikit, selama anda dapat menemukan tempat yang tepat untuk memproduksi produk anda.

Kualitas buruk? Pernah dengar iPhone, iPod, atau iPad? Bagaimana kualitasnya menurut anda? Sebagian besar bagian produk tersebut (atau bisa jadi seluruhnya) juga mengusung tiga kata dalam judul ini. Berapa sih pengeluaran Apple untuk biaya produksi sebuah iPhone? Well, in fact, biaya produksi produk kebanggaan anda itu tidak sampai setengah harga yang anda bayarkan. Apa? Anda beli dari Telkoms*l waktu peluncuran perdana? Well, sad for you, kalau begitu harga produksi produk kesayangan anda tersebut bahkan tidak sampai 1/3 uang yang anda keluarkan.

So, 1 iPhone sekitar 2 juta? Yeap, kalau anda jenius, punya otak yang cukup untuk mendesign sebuah handphone, memprogram dan mencari perusahaan di tiongkok sana yang mau memproduksi hasil karya anda dalam jumlah satuan (10 lha, di bawah 10 jarang kayanya sih, dan percayalah ada lho pabrik yang mau produksi dalam order puluhan) maka anda cukup mengeluarkan 2 juta untuk sebuah handphone sekelas iPhone. Dengan catatan, anda berhasil menjual 9 iPhone-clone sisa anda ke orang lain. Otherwise, anda harus keluar 20 juta :p.

Itu untuk kasus barang mewah sekelas iPhone, lalu bagaimana dengan baju yang dijual seharga 20-40ribu? Bagaimana dengan gantungan kunci seharga seribu dua ribu? Kalau kita pakai margin keuntungan yang serupa, maka kita akan melihat bahwa harga produksinya……… Well, it’s too cheap to be imagined, yet it’s true. Hal yang paling mencengangkan, produksi dengan order yang tidak terlalu banyak juga tidak membuat harga melonjak luar biasa.

I sat, watched closely a board on the desk. Here is a mobile phone board, without any case and just costs about 40$. Now, there are only 50, maybe 100 of them. At the end of the year, the board will be placed in a 5$-case then suddenly it costs 400$.

Perusahaan pembuat produk akan untung besar, tapi 3 kata yang tetap membekas di hampir semua produk, murah ataupun mahal, buruk ataupun kualitas nomor satu, dibeli tukang becak ataupun dipajang di etalase museum bintang lima. Made in China. Because they can make it cheaper, cheaper, and cheaper.

About these ads

Tags:

One response to “Made in China”

  1. vicong says :

    Ada buku bagus tulisan Paul Midler judulnya Poorly Made in China. Kenapa barang manufaktur Cina bisa sangat murah selain faktor-faktor yang sudah sering dibahas (upah murah,jaringan antar industri dll), trik curang juga banyak dilakukan seperti pesan 1.000 pihak pabriknya malah produksi 2.000 dimana 1.000 lain dijual sendiri oleh pabriknya :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,322 other followers

%d bloggers like this: