Supply Your Company with (a lot of) Food

Tiga tahun lalu, saya bertanya ke kakak saya: “Ga mau lanjut ambil S2?” Jawaban dia simpel: “Ga ah, uda bosen belajar.”

Bosen belajar itu kaya apa sih emang? Even, beberapa saat sebelum lulus kuliah dari kampus gajah, saya uda dengan pastinya mikir kalau saya masih mau lanjut belajar ke jenjang yang lebih tinggi. Jadi pelajar enak kan, ga usah mikir kerjaan, jatah libur yang super banyak, ga usah mikir disuru beli rumah sama ayah bunda, ga usa mikir disamperin bos gara-gara ga meet deadline. Intinya, kalaupun pelajar “berdosa”, kayanya lebih nyantai daripada para pegawai-karyawan di luar sana. Lebih dari itu, ya menurut saya, belajar itu menyenangkan. Selalu mengeksplorasi hal baru. Ga stuck di satu cubicle kecil di suatu ruangan di suatu gedung yang sama sekian tahun. That was my opinion.

Jreng-jreng, entah beruntung entah sial, saat merantau di negeri orang untuk menimba ilmu, saya mendapatkan pembimbing super jenius dan “baik” (perhatikan baik-baik peletakan tanda kutip pada kalimat in :D). Kayanya sih saya uda pernah bragging soal si profesor jenius ini di salah satu tulisan saya, tapi izinkan saya sekali lagi menyanjung beliau:

Dia jenius kuadrat. Lulus S1 dari NCTU, melanjutkan pendidikan selanjutnya di Stanford University, migrasi ke pantai Timur negeri paman saya demi mendapatkan M.Phil and Ph.D. dari Yale University, one of the Ivy League universities.

Dan, yap, si super jenius ini sukses membuat saya merasakan apa yang kakak saya katakan 3 tahun lalu. Nope, it’s worse. I am sick of it. Bahasa Indonesianya: Saya muak. Bukan muak belajar, belajar itu kan salah satu proses yang akan kita alami seumur hidup. Saya muak belajar di institusi pendidikan. Saya muak dengan segala aturan tetek bengek yang mengharuskan nilai ujian harus di atas X supaya kamu bisa dinyatakan lulus di satu subjek. Saya muak dengan keharusan belajar. Saya mau kok, tapi bukan berarti harus dipaksa kan. Well, pada akhirnya, meskipun mendapat tawaran Ph.D. yang sebenarnya cukup menggiurkan, akhirnya saya mendadah-babaikan juga dunia pendidikan formal. I’m done with formal study (or at least for now ;)).

Cerita di atas menjadi jembatan untuk masuk ke inti tulisan kali ini (intro kok panjang bener yah). So, now, I’m a working man and yes it’s somehow makes me afraid. Kalau masi sekolah kan enak, salah-salah paling dapet nilai jelek, ngulang, dkk. Kalau kerja, nanti bisa dipecat, ga dapet gaji, ga bisa makan, ga bisa kasi makan anak istri (ini sih jauh bener lho mikirnya). The first question for most of fresh grads: so, what’s your dream job?

Banyak yang bilang, saya mau kerja di multi national company. Ada yang bilang, saya mau kerja di tempat yang ga usah lembur-lembur. Ada yang specific bilang: saya mau di Accenture (ups, maaf sebut merk). Saya? Awalnya sih spec saya tinggi setinggi-tingginya. Tapi, setelah mendapatkan sesuatu yang mencerahkan hidup (halah), ekspektasi saya ga tinggi-tinggi amat kok. Yah, kalo bisa sesuai kapasitas saya saja deh kerjaannya biar saya ga harus berjuang menyelesaikan semua kerjaan-kerjaan yang diberikan.

Jreng-jreng, masuklah saya ke salah satu ODM di negara cina coret.

I really love my job. Well, bukan masalah kerjaan yang ga banyak-banyak amat. Bukan masalah jam kerja yang menyenangkan. Bukan masalah dikasih laptop i7 baru super duper keren. Bukan masalah ada game center di sebelah kantin. Bukan masalah coffee bar di pojokan sana. Bukan masalah gaji yang cukup menggiurkan. Bukan masalah shuttle bus yang ternyata gratis. Bukan masalah dapet cubicle kantor yang penuh privasi. Bukan masalah dekat dengan orang terkasih (ciyehhhh).

The most lovable thing about my job is: ALL-U-CAN-EAT-COMPLETE-DELICIOUS-BUFFET. What else can i expect?

Well, the bottom line, we all here are a happy healthy family because of that. Just imagine. Lebih dari 10 macam lauk pauk; 3 macam makanan pokok seperti nasi, bihun, bubur; 2 macam soup; dessert; dan jangan lupa, tersedia menu khusus untuk vegetarian. Hal paling penting, oh man, it’s endless. Wakakak. Akhirnya, saya jatuh hati karena makanan.

However, it’s really the truth. Bagi orang-orang di luar sana yang mulai membuka usaha sendiri (dan saya yakin banyak), provide a very good meal each day for every employee. They will love you with all of their heart (kayanya ini nih yang terjadi waktu saya di Sangkuriang Studio). LOL.

About these ads

Tags: ,

2 responses to “Supply Your Company with (a lot of) Food”

  1. Coyo says :

    Wah mantab tuh sam..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,322 other followers

%d bloggers like this: