Christmas Without Santa and Tree

Christmas is about gift. It’s all about present.

“Ih, kartunya lucu yah..”, celetuk teman saya saat kami melihat-lihat kartu natal di Eslite Taipei 101. Wajar, karena sekian rak di sana memajang sekian ratus kartu yang unik-unik, dari kartu yang hanya berupa lembaran kertas, lembaran kertas yang bisa bersuara, hingga lembaran kertas bercahaya. Ada juga kartu yang terbuat dari beludru (well, lebih ke box sih jadinya bukan kartu lagi). Gambarnya beragam, dari bayi, pohon natal, kristal salju, hingga sinterklas (saya tuh heran kenapa yah ga ada yang berbau-bau Pit Hitam, oh, I wish to see that one! lol). Bentuknya juga lucu-lucu… I know, I know, no pic == hoax. Tapi kalau saya kasih pic nya, spoiler donk, dateng aja sendiri ke TKP deh :p.

Anyway, percakapan kami berlanjut…

Teman saya tidak merayakan Matal, dia merayakan Lebaran, jadi saya bilang: “Lebaran aja lo bikin kartu-kartu lucu kaya gini trus kirimin deh jadi kartu lebaran”. Dia membalas, “Ya ga cocok atuh”. Lebaran menurut dia (maaf yah kawan kalau ternyata salah) adalah waktu di mana kita semua bermaaf-maafan untuk segala kesalahan orang lain dan juga kesalahan kita. Jadi, kita harus maafin orang lain, dan kita juga harus tau diri kalau kita ini bukan malaikat yang tanpa dosa jadi harus minta maaf ke orang juga. The point is, itu gak pas aja dengan ajang hadiah atau kartu lucu-lucu. Makanya, jangan heran kalau Lebaran dekorasinya ketupat mulu, bukan ketupat ada mata kedip 1, dikasih mulut senyum trus ditambahin rambut kriwil satu buah di atasnya tak lupa si ketupat dikasih tangan dan kaki + sepatu kets warna biru muda. Silakan bayangkan! Ga cocok kan…

On the other side, kalau kita lihat hiasan Natal, itu kurcaci-kurcaci bisa tiba2 lucu gitu, paman santa gembul yang perutnya kaya minta ditonjok saking miripnya sama samsak (sadis bener sih), hadiah-hadiah, pohon natal wah, sampe kue-kue yang sayang dimakan saking lucunya.

Rumah kita hias, mal-mal dihias, mobil dihias, bahkan anjing, kucing, kambing, sapi, bebek pun kita hias saking ingin menunjukkan suasana natal.

Natal itu berbau mewah, lucu dan menyenangkan. Okay, to be fair, sometimes people assume Christmas more like sederhana, tenang, dan damai. Tapi kalau lihat ke jalan, opsi kedua kayanya jarang terlihat, mungkin itu muncul di adegan film sejenis Christmas Carol yah. Entah karena semua orang bahagia di saat Natal, atau simply ini korban komersialisasi Natal oleh Walmart and the gank (kenapa harus Walmart, karena saya mo nulis Carefour cuma kaya ga elite kesannya :p).

Okay, saya ga mau membahas komersialisasi Natal, atau hal-hal negatif tentang Natal seperti Natal yang harusnya bukan Desember karena itu sebenarnya acara kaum pagan. So, saya ambil sisi positifnya aj, mungkin sebagian besar umat yang merayakan merasa Natal is the moment to share the joy, happiness, merriness. Berbagi sukacita natal, kalau kata tagline salah satu TV swasta sekian tahun lalu. Oleh sebab itu, sebagian besar orang merasa lebih oke kalau Natal meriah, berwarna, lucu dan penuh hadiah biar orang-orang lain juga bisa ikut merasakan sukacita Natal (yayaya, I know, some of you will not agree with this).

Selain kemeriahan dan segala pernak pernik yang menyala di malam hari, dua hal yang identik dengan Natal pasti selalu hadir: Santa and Christmas tree. Bahkan, kayanya itu sesuatu yang aneh, hingga muncul film The Year Without a Santa Claus dan buku Christmas Without A Tree. Kenapa Santa? Karena Santa membawa hadiah. Kenapa Pohon Natal? Karena di bawah pohon Natal ada banyak hadiah :) . Sayangnya, saya belum pernah memiliki pohon Natal. Ini request yang selalu ditolak waktu saya kecil. Hahaha. Saya juga belum pernah foto sama Santa Claus. Mmm, to be more precise, I even don’t really care about Christmas decoration at all and yeap, since my undergrad years, I don’t really realize about this western holiday.

Moreover, saya kayanya udah dicap apatis dan dipandang sinis deh sama orang-orang yang berjuang sibuk-sibuk mempersiapkan Natal saking gabutnya saya di segala macam persiapan Natal. Ga ada yang mau minta bantuan saya kayanya (since, mungkin saya dianggap ga bisa apa-apa), dan saya sih seneng-seneng aja dengan hidup saya tanpa bersibuk-sibuk dengan Natal. Why bother?

Hal yang menarik dari segala hiruk-pikuk Natal ini, semua orang terlihat hectic! Sibuk nempel-nempel, sibuk bikin acara, sibuk ngurusin ini itu, sibuk latihan drama. Di tengah kesibukan mereka, biasanya mulai terdengar keluhan-keluhan, kok si ini ga bantuin, kok mereka mau enaknya aj sih ga ikutan blahblahblah, dan dan sekian kata-kata mengarah ke cemoohan mengenai orang-orang yang merasa “ngapain sibuk-sibuk pas Natal” (yang tentunya ada saya di barisan orang-orang ini, hahaha). Sibuk-sibuk-sibuk, Natal, cape-cape-cape.. Somehow, Christmas is over. Dan biasanya orang yang mau beresin sisa-sisa Natal ga ada, jadi ga heran hiasan Natal sering kali masih bertengger sampai satu bulan ke depan :p.

Saya kagum pada mereka yang bersibuk dan bercape ria di tengah segala persiapan dan pelaksanaan hari bersejarah bagi umat Kristiani ini. Apalagi setelah segala pengorbanan yang mereka lakukan, mereka rata-rata akan berkata, “Ini semua untuk Tuhan, meskipun cape dan banyak masalah yang harus dihadapi, seneng deh rasanya bisa melakukan sesuatu untuk bayi Yesus”.

Christmas is about gift. It’s all about present.

Saya pengen banget nanya sama orang-orang itu, pernah ga sih mereka ingin diam, duduk ga bikin apa-apa. Ga hectic dengan segala persiapan Natal bagai Santa Claus yang sibuk membungkus kado dan menghitung daftar anak-anak yang akan dibagikan hadiah. Ga berjibaku untuk memasang dan menghias pohon Natal. Menikmati hiasan-hiasan di jalan atau di gereja tanpa harus lari-lari datang ke latihan drama.

Natal itu tentang hadiah. Kita berbagi sukacita kepada orang lain, kita berbagi kemeriahan kepada mereka yang belum pernah merasakan. Natal menurut saya juga saat di mana kita yang mendapatkan hadiah. Hadiah sukacita, hadiah kemeriahan, dan yang terpenting hadiah damai yang dibungkus dengan manis buat kita semua. Saya belum pernah tau aja ada orang yang damai di tengah segala kesibukannya (ada juga stress jadinya :p). Coba sekali-kali, kita buka hadiah kita itu tanpa harus pusing-pusing dengan segala macam persiapan menyambut Natal. Lebih baik duduk manis, buka kadonya dan nikmati damai Natal kita. Menikmati Natal tanpa santa, tanpa pohon natal.

Untuk mereka yang berjuang menyelesaikan dekor Natal, berlatih drama dan tari-tarian, serta berjibaku dengan segala persiapan lain, Selamat Natal dan jangan lupa membuka kado kalian! :)

Advertisement

Tags: , , ,

2 Responses to “Christmas Without Santa and Tree”

  1. Saptomo says :

    christmas came early in taiwan? di sini masih dua minggu lagi :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,338 other followers