Mandarin Sebagai Bahasa Ketiga

Minggu lalu saya berpikir untuk menulis sesuatu tentang pentingnya belajar Mandarin untuk mempersuasi teman yang akan mengakhiri kontrak kerjanya di Singapore dan bingung mau ngapain setelahnya (yeap, it’s you, La!). Tapi, kemarin saya melihat artikel ini, dan saya akhirnya memutuskan menulis sesuatu yang umum tentang Mandarin. Kalau anda membaca artikel tersebut, mungkin anda akan melihat Mandarin akan menjadi sesuatu yang sangat krusial beberapa tahun lagi, terutama dari segi ekonomi. Hal ini pastinya efek langsung dari menguatnya Cina sebagai poros ekonomi dunia. Tulisan ini mungkin bisa dibilang pelengkap dari apa yang sudah dituliskan Phillip di sana.

Sejak saya kecil orang tua saya sudah bilang: Mandarin itu penting! Kurang lebih sejak 15 tahun lalu. Ayah saya berkata: “Untuk ilmu dan teknologi, belajarlah bahasa Inggris. Untuk bisnis, harus bisa Mandarin”. Saya dipaksa belajar kedua bahasa tersebut sejak kecil, kedua sama-sama dimulai oleh apel. Apple dan 苹果. Yap, bagi anda yang mengenal tulisan non-latin tersebut, anda akan sadar, saya (dulu) belajar Simplified Chinese. Bahkan untuk sesuatu yang simplified, itu SUSAH!

Saya harus nangis-nangis dulu buat minta berenti les Mandarin di masa SMA. Les Inggris saya sudah berhenti sejak saya naik SD. Hari ini, saya bisa menggunakan bahasa Inggris dengan baik (at least, saya bisa berkomunikasi dengan lancar dengan semua orang yang bisa Inggris). Lalu, apakabar Mandarin? Mmm, 9 bulan lalu. Saya cuma bisa nembak cewe dengan bilang “wo ai ni”. Hahaha, bahkan nulis ai dalam bahasa sebenarnya aja ga bisa. Now? Setidaknya saya udah bisalah belanja dengan baik di pasar :) .

Sembilan bulan terakhir, saya menyadari, Mandarin bukan lah sesuatu bahasa yang penting. Sama seperti Inggris, Mandarin sudah menjadi keharusan untuk dikuasai bagi sebagian besar orang. Mmm, kalo sampe saat ini, anda termasuk orang yang ngomong Inggris pela-pelo, ya udah lah yah, itu Inggrisnya dibenerin dulu. Apalagi kalo udah sarjana, malu ah sarjana ga bisa Inggris. Buat anda yang sudah fasih dalam bahasa orang bule tersebut, saya sangat menyarankan, mulailah belajar Mandarin.

Orang bilang, Mandarin penting untuk bisnis. Yes! It’s really true. Coba liat, produk apa sih yang ga ada “Made in China”nya. Mungkin orang-orang bilang, itu mah China aja yang seneng bikin versi murah-jeleknya dari setiap produk. Ya Soni lah, ya iPon lah, ya Tochiba lah. Okay, kalau anda masih berpikiran seperti itu, saya turut kasihan dengan pergaulan dan wawasan anda. Silakan lihat iPhone original karya Apple. Sebagian besar komponen yang membentuk benda tersebut adalah “Made in China”. Tidak percaya? Salah satu supplier terbesar Apple untuk komponen elektronik adalah Foxconn, perusahaan asal Taiwan. Pabrik terbesar Foxconn berada di Cina daratan (13 pabrik). Foxconn juga pemasok untuk Amazon, Intel, Microsoft, dan sekian merek ternama lainnya, yang kalau anda lihat di bungkus produk-produk tersebut, mungkin namanya sudah jadi Made in Malaysia, Made in Singapore, atau Made in Hongkong. Bongkar sampai komponen terakhir, minimal 1 komponen Made in China anda temukan di dalamnya. China tidak hanya bisa membuat produk jelek, 3 bulan rusak. Produk dengan kualitas tinggipun bisa diproduksinya.

Lalu, apa hubungannya dengan Mandarin? Kalau anda ingin bekerja di perusahaan ternama, pasti mau tidak mau anda berurusan dengan orang-orang dari Cina, dan berhubung sebagian dari mereka tidak bisa bicara Inggris (dan anda juga mungkin pela-pelo kan :p), Mandarin adalah satu-satunya jalan keluar. Oh, anda tidak mau kerja sama orang. Males jadi jongos orang lain? Berarti anda ini wirausaha, entrepreneur bahasa kerennya mah. Well, anda mau kan usaha yang anda punya itu sukses dan menjadi besar. Percayalah, suatu saat anda pasti akan berurusan dengan negara Tirai Bambu ini. Entah bikin pabrik, entah klien anda dari sana, atau anda ingin mencari pemasok yang murah. Mandarin akan menjadi penyelamat dan mungkin pendorong usaha anda agar berkembang.

So, kalau ga di bidang bisnis ga penting donk? Hmm, saya suka kata-kata teman saya: “Kalau gw liat yah Sam, perkembangan teknologi ini selain di Amerika, sekarang adanya di Asia Timur, ga lagi di Eropa.” Jadi, kalau anda mau menuntut gelar di daerah Eropa sana, pasti tujuan anda jalan-jalan, bukan cari ilmu :p. Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Hongkong. Semua teknologi ada di sana. Jadi ga salah donk milih belajar Jepang atau bahasa Korea? Yah, ga salah sih. Tapi anda belajar bahasa untuk mencari ilmu? Abis itu? Pulang ke Indonesia dan mengimplementasikan ilmu yang anda dapat? Hmm, anda naif kalau begitu. Kalau anda belajar Jepang dan Korea, anda bisa saja mendapat ilmu dari negara-negara tersebut. Habis itu, pilihannya antara pulang ke tanah air dan ilmu anda menguap (even jadi dosen sekalipun) atau bekerja di negara itu (yang banyak terjadi sih ini yah). Sayangnya, dengan biaya hidup yang tinggi di kedua negara maju tersebut, rata-rata perusahaan teknologi besar di sana, akan membangun pabrik atau mencari supplier dari negara tetangga yang ongkos produksinya lebih murah. Di mana? Mana lagi kalau bukan negara dengan populasi terbanyak, RRC! Dan, yakinkah anda rakyat RRC bisa berbahasa Jepang atau Korea?

Alasan berikutnya adalah: Mandarin itu paket hemat. Dengan satu bahasa, anda bisa berkomunikasi dengan seluruh orang di Cina Daratan dan Taiwan, nyaris seluruh orang di Hongkong, sebagian besar orang di Singapore dan Malaysia, dan cukup banyak orang di Indonesia. Tiga negara pertama mungkin hal yang paling penting bagi anda. Baik dari bidang ekonomi (Cina), teknologi (Taiwan), maupun gabungan keduanya (Hongkong).

Orang Eropa dan Amerika sudah berbondong-bondong mempelajari Mandarin, belum lagi orang-orang Amerika Latin dan Afrika (yeap, I saw a lot of them here, just to study Chinese). Saat semua orang bisa berbicara Mandarin, layaknya sekarang semua orang mampu berbicara Inggris, apa iya, kita mau ketinggalan lagi?

Yuan sudah mau dilepas oleh kontrol pemerintah Cina agar bisa menyaingin US Dollar sebagai mata uang internasional. Ekonomi dunia sudah berpindah poros ke Asia. Teknologi tinggi saat ini juga sudah bukan lagi monopoli negara-negara Barat. Man power dan resources? Yang ini jelas sekali. So, saat anda berpikir: Mandarin itu susah. Milyaran orang di luar sana juga merasakan hal yang sama seperti anda saat pertama kali mempelajari bahasa ini. Adik sepupu saya nangis karena Mandarinnya yang ga lancar-lancar saat sudah kelas 2 SD, sepupu saya yang lain, gagal tes SMA salah satunya karena Mandarin. Lucunya, mereka orang Taiwan asli. So, bagi Mandarin itu memang sulit, tapi mereka semua bisa kok menguasainya. So, what’s the problem?

Well, the problem is our environment. Bahasa itu bukan sesuatu yang bisa dimengerti atau dihafalkan. Bahasa itu ada sebagai saran komunikasi, jadi untuk bisa menguasai bahasa, tentu kita harus sering berlatih toh. Jangan desperate kalau belajar ga bisa-bisa. Latihan, practice makes perfect. Kalau anda punya uang berlebih, saran saya pergilah ke tanah Cina. RRC atau ROC. Cina daratan atau Taiwan. Belajarlah Mandarin di sana, rata-rata pendatang yang khusus datang untuk belajar Mandarin, dalam satu tahun sudah cukup fluent. Ya iya lah, tiap hari harus ngomong dan baca tulisan antah berantah kaya gini, gimana ga jago? So, kalau anda punya mimpi, entah itu mimpi membangun negeri, mimpi jadi kaya, atau mimpi bisa bekerja di perusahaan bonafide, belajar Mandarin mungkin dapat menjadi salah satu komponen penunjang keberhasilan anda meraih mimpi-mimpi tersebut.

Di bagian akhir tulisan ini, saya mau mengutarakan jawaban saya atas pertanyaan: Mendingan mana, Traditional Chinese or Simplified Chinese? Susah ga sih Traditional Chinese itu?

Jawaban saya: Sama aja! Sama susahnya, jangan berharap simplified lebih gampang dari traditional. Bahkan,saya pribadi cenderung bilang traditional itu lebih gampang. Huruf-huruf Traditional Chinese lebih punya makna daripada Simplified yang cuma buat dihafalkan. Coba kita lihat “ai” yang berarti cinta, dalam Traditional Chinese:

, sedangkan dalam Simplified Chinese:

Buat saya, Simplified Chinese menghilangkan arti dalam karakter tersebut. Kenapa? Coba lihat karakter yang satu ini:

“xin”: yang berarti hati. Di dalam tulisan tradisional, anda akan melihat adanya karakter hati tersebut di tengah “cinta”. Di tulisan simplified? Hilang, karena susah nulisnya, lebih gampang diganti garis kaya gitu. Tapi, kalau anda orang yang sama seperti saya, lebih gampang menghafal berdasarkan makna goresan, maka huruf-huruf tradisional akan jauh lebih mudah diingat, meskipun memiliki jumlah goresan yang lebih banyak. Jadi kesimpulannya, kalau menurut tulisan tradisional, “mencintai itu harus pakai hati”, tapi kalau berdasarkan tulisan yang disederhanakan: “cinta ga pakai hati tetep bisa jadi cinta kok” :p. Hahaha..

Alasan lain yang agak subjektif: Traditional Chinese jauh lebih cantik! Hahaha, alasan ini biasanya keluar dari orang-orang Taiwan, atau orang yang belajar Mandarinnya di Taiwan. Sebagian bener, sebagian lain karena masalah ego. Hahaha. Tapi, apapun jenis Mandarin yang anda pelajari, ga terlalu berbeda kok, masih mirip-mirip :) ..

So, at the end, menurut saya, Mandarin saat ini sudah bukan penting lagi, tapi sudah menjadi sesuatu yang harus dikuasai sebagai bahasa ketiga kita. Saat, orang bertanya, worth it ga sih buang umur 1 tahun untuk belajar bahasa ini? Worth it kok.. Tapi, abis itu dipake yah! Kalo ga, ya nguap lagi donk ntar :)

 

http://blog.makezine.com/archive/2011/07/why-every-maker-should-learn-chinese.html

Tags: ,

2 Responses to “Mandarin Sebagai Bahasa Ketiga”

  1. Darwin says :

    Wah sumpah lah mueng.. Mindset lu sama kayak gua..
    Setiap kata bnar2 klop…haha
    Klo gua pribadi sih, mau blajar mandarin karena faktor muka. Malu, kalo nanti ketemu orang native Chinese, trus diajak ngomong mandarin, malah gak bisa..haha..
    Dulu pernah belajar, tapi berhenti (gara2 lao tze-nya meninggal -_-a) alhasil jadi lupa semua deh..
    Btw, gua punya pertanyaan nih, kalo dari pengalaman lu, orang2 Indo yang disana kalau yg bisa mandarin, bagi orang2 native Taiwan-nya mereka memandangnya sperti apa? Maksudnya, apa mereka respect gt? atau tetap menganggap orang Indonya sbg foreigner ?(sehingga cara berbicara-nya tetap terlihat berbeda dibanding kalo ngomong sama sesama Taiwanese)

    • samsi says :

      Haha, maksudnya rasis gitu win? Ga kok, biasa aj, foreigner di Taiwan mah udah sangat banyak dan mindset mereka juga ga beda2in orang sepertinya mah..
      Cumaaaa…. mungkin saat dia tau lo ga bisa ngo Mandarin yah dia ga bakal terlalu bawel ke lo nya, since most of them can barely speak English.. Itu aja sih kendalanya.. Ayo ke Taiwan :D ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,319 other followers