Pictures of You: 2 Sahabat, 2 Kekasih, Beberapa Selingkuhan
No! Ini bukan kisah saya yang punya 2 kekasih, atau cerita sahabat saya yang punya banyak banyak selingkuhan. So?
Kalau teman kamu melakukan suatu usaha demi menggapai mimpinya, apa yang kamu lakukan? Sebagian dari kita pasti menjawab: “Ya, didukung donk!”. Lalu, gimana cara dukungnya? Sebagian besar dari yang menjawab tadi akan berkata, “Didoain deh biar mimpi-mimpinya tercapai”. Hmm, bagus sih…… Tapi, yakin gitu kamu pernah menyebut nama teman kamu di dalam doa-doa yang kamu panjatkan kepada Tuhan YME? :p Beberapa orang akan bilang, “Kasih semangat aja, pake ucapan apa kek..”
Saya bukan orang yang bisa dengan gampang bilang: “Eh, semangat yah buat xxx-nya”, atau “Ayo, ditunggu mimpinya tercapai”. Ya elah, orang kalau ada temen ultah atau berduka saya bingung toh mo sms apa. Biasa nanya dulu ke orang laen, “Eh, gw musti bilang apa nih?” I’m not good with words. Jadi, kalau kamu yang merasa berteman sama saya tapi ga pernah terima ucapan selamat ultah, jangan salahin saya yah, it’s simply because I don’t like to give good words to other people.
Trus, ini sahabat, kekasih, dan selingkuhan tentang apa yah jadinya?
Late Birthday Gift
Last night, I told to my friend, “Ndra, I got a birthday gift!”. My friend simply replied, “HEH???”
Yeap, it had been a while since I had my last birthday, almost 4 months ago. Since that day, my labmate always had said, “I want to give you a birthday gift”. I replied, “No, you don’t have to”, every single time (yeah, sebenernya sih mau, tapi kan malu, maklum di negeri orang, jangan malu-maluin bangsa sendiri ah
). Day after day, week after week, month after month, finally, on June 29th, that particular labmate called me, “Samuel, this is your birthday gift!”
Oh my God, I thought he had given me a birthday gift! One day, he gave me a drink (one of my fave!). I thought it was my gift, and I was wrong. So, after 4 months, he gave me something special. No wrap, no box, just a simple paper bag (yeah, paper, not a plastic! Let’s save our environment, dudes!). I opened it, I amazed. Right after I lost my water bottle, I got something similar. See this one:
Yeah, a tumbler, not a tumblr of course :p.. Starbucks’ tumbler! Yippy… Again, one Starbucks’s tumbler went to my collection, and this time, Taipei went to my drawer.
I’m happy, not because it’s an expensive one. I’m happy because he cares about me. Well, you will never give anything to anybody if you don’t care about that person, right?
So, thank you, my friend! I’ll always remember this special gift, and yeap, I dedicated this short post for my nice friend, Wu Chia-Hung (吳佳鴻).
Thank’s, buddy!
Of course, first thing when I received this gift, I remembered all of the 22nd in Starbucks all over Bandung
.
Makan Tuh Gelar
Siapa yang pernah/masih kuliah ngacung? *ngacung*
Coba liat nama dosen kamu, tulisannya apa? Saya suka tersenyum geli kalau baca papan nama dosen di almamater saya: Prof. Dr. Eng. Ir. Selamat Maju Sentosa, S.H., S.T., S.Sos., M.T., Ph.D. Hahaha, ga sampe segitunya sih, itu mah lebay kuadrat. Tapi kalau dicermati baik-baik sebagian besar pasti gelarnya panjang macem gerbong kereta. Ir. xxx ST., MT., Ph.D. atau Prof. Dr. Ir. yyy M.Sc., Ph.D.
Pertanyaan saya, kenapa sih harus ditulis panjang-panjang gitu?
That’s Why We Call It Social Gap
Two articles a day means that I’m really-really useless on my desk. Yeap, Saya baru mengakhiri sesi kedua tidur siang saya hari ini, so daripada saya mulai sesi 3, mending melakukan sesuatu yang agak sedikit bermunazabah seperti nulis yang ga penting kaya gini
..
Saya paling males ketemu orang dari negara asal saya alias Indonesia di pesawat atau airport. No, it’s not because they smell like cow :p, or because I’m a the most famous-and-popular person so that they will ask me for autograph. Abisnya, seringan kalo ketemu teman senegara, mereka sering melakukan hal-hal yang bikin saya mau bilang “Rrrrrrrrrrr”..
Kalau Bisa Malas, Kenapa Harus Rajin?
Beberapa saat lalu, saya berkunjung ke negara mungil bernama Singapore untuk mengunjungi teman-teman saya (mmm, cuci mata sih tujuan utamanya). Short trip, only 2 days. Efek 9 bulan di Taiwan dan 1 minggu di Indonesia cukup membuat saya agak-agak sebel setengah miris melihat kelakuan orang-orang di negara Merlion ini. Coba kita lihat yang terjadi pada saya selama 9.25 bulan sebelumnya.
Jam kerja Taiwan tidak terlalu berbeda dengan negara lain, 8 to 5 atau 9 to 6 (okay, mungkin kalau di Indonesia lebih hemat 1 jam dari itu). Dengan jam kerja seperti itu, beberapa orang (beberapa di sini == banyak) masih melakukan overtime, which means jam 10 pun masih banyak orang yang baru mau pulang. It’s for weekdays. Di ujung minggu, keramaian dimulai di jam yang tidak jauh berbeda, yang artinya naik MRT jam 7-9 cukup membuat malas karena susah dapet tempat duduk. Yah, saya tidak bilang semua orang sudah beraktivitas jam segitu, but many people start their life in the early morning (atau mungkin karena apartemen saya yang sebelah pasar yah?
). Well, my point is, saya yang biasa tidur jam 1-2 malam bisa kok (baca: mau ga mau) mengikuti gaya hidup tersebut.
