Ilha Formosa: Taiwan Will Touch Your Heart
Ini dia video promosi pariwisata yang keren dari Taiwan.
Sinopsisnya: Berawal dari Taiwan HSR (High Speed Rail alias Shinkansen versi Taiwan), si cewe berkelana keliling Taiwan. Di perjalanan, dia ngeliat pesta pernikahan khas Tionghoa yang masih ada petasan-petasannya, naek sepeda (Taipei banget!), dan ga lupa dia menginap di Beitou (hot spring yang paling terkenal di pulau ini). Tentu tak lupa dia mengunjungi Dan shui, dengan sungainya dan kapal-kapal kerennya itu dan dilanjutkan dengan maen kaya Timezone, tapi ini versi rakyat. Lucu deh kalo maen yang ini, tourists should try!
Di akhir video, makanan, belanja, objek wisata (muncul Taipei 101 dan ferris wheel Miramar di sana, dan sebagian kecil foto tempat wisata lain). Liriknya sendiri dalam Mandarin, kecuali: Taiwan will touch your heart-nya.. Hahaha.. Ilha Formosa itu bahasa Portugis, jadi ga masuk itungan juga
.
美麗的島嶼
A beautiful island
張開雙手歡迎你
With open arms to welcome you
美食與熱情
Food and hospitality
沒有人能抗拒
No one can resist
臺灣會是你難忘的旅程
Taiwan will be your unforgettable journey
讓所有美夢成真
A dream come true for allIlha Formosa
Taiwan will touch your heart
Ilha Formosa
Taiwan will touch your heart美好風景(在你身邊)
Beautiful scenery (at your side)
溫暖人情(在心裡面)
The warmth of human feelings (in your heart)
這將會是你豐收的旅程
This will be the reward of your journey
讓所有期待成真
Everyone is looking forward to making it a realityIlha Formosa
Taiwan will touch your heart
Ilha Formosa
Taiwan will touch your heart
Ilha Formosa
Taiwan will touch your heart
Ilha Formosa
Taiwan will touch your heart
Taiwan will touch your heartWelcome To Taiwan!
Well, it’s true! Kalau mengklaim pemandangan alam di Indonesia bagus, ya iya sih, cuma, pemandangan bagus tapi ga terawat kan sama juga boong toh. Kalau makanan di Indonesia di bilang enak-enak dan beragam, berarti anda harus ke night market ato pasar pinggir jalan di sini. Buanyakkkk banget makanan aneh bin ajaib dan juga buah-buah yang ga ada di Indonesia. Dan, yang menarik adalah: HSR.Yeah, 3 x jarak Jakarta-Bandung di tempuh dalam 80 menit. So, kalo mau diving di ujung Selatan, tinggal ngesot
. Great!
And yeah, it’s a very good promotion video!
Tugas Akhir: Spam!
Tulisan ini tidak ditujukan untuk memojokkan siapa-siapa koq, sungguh, hanya mau mengisi waktu luang di tengah padatnya rutinitas saja
.
Suatu siang yang dingin, saya melihat icon email menyala di sudut kanan bawah layar komputer saya. Saya pun mengecek email yang masuk. Tidak disangka, tidak dinyana, ada sesuatu di folder yang bertajuk “Junk”, ini dia peristiwa yang berhasil saya abadikan dengan menekan tombol Print Screen:
Berasa lucu aja. Bahkan ibaratnya si Outlook aja mau bilang kalo email ini ga penting buat saya. Huehehe. Masa-masanya udah lewat nih.
Tapi yah, ini milis lho, di saat di milis tetangga orang-orang selalu mengoceh tiap kali ada yang ngirim attachment ke milis, yang ini ga ada yang komentar yah soal attachment tersebut. Well, jelas karena yang dikirimin mahasiswa-mahasiswa yang memilih nerima wae daripada ribet-ribet ngurusin kaya gituan tapi tugas sebenarnya alias TAnya ga beres-beres. Atau kaya saya yang udah melewati masa-masa tersebut, cuek-cuek aja, toh udah bukan urusan saya lagi.
Tapi, ngirim email ke milis itu ga bae lho! Kasian si servernya, keberatan kalo harus nampung email segede gitu dan sebanyak peserta milis yang lebih dari 2 orang (ngapain bikin milis kalo pesertanya kurang dari 2 coba?
). Jadi, anak-anak, pesan moral yang ingin disampaikan di sini adalah: Janganlah ngirim attachment ke milis! (Lho, ga nyambung.. Hehehe..)
*ngacir*
Culture Shock: Mài Dāng Láo, upss… I Mean McD
Familiar with this one? I bet you do! And, I’m sure, everyone who can access the internet, know this cute M
.
One day, I spoke with my friends about shopping. “Sogo”, my Belgium friend said. My Taiwanese friend looked totally confused. “Eh?”, she said. “So Go”, he repeated. After couple seconds, “Chóng Guāng!”. “Sogo, you know it, don’t you?”. I joined in that pathetic conversation, “You cannot say Sogo in here, just use the Chinese word for it. Like that!”, I talked to my Belgium friend and asked the Taiwanese to repeat ‘Sogo’ in Chinese. My Belgium could not accept it (kekeuh pisan eta). “No, it’s a brand name! I can say Sogo around the world, like McD, or anything like that!”. “Okay”, I didn’t want to argue him that time.
Culture Shock: It’s Just A Number, Really!
My handwriting is bad. Very bad actually so that I’m sure maybe some of you barely can read that
. Fortunately, I can write down the number from 0 to 9 perfectly and very readable. You don’t believe it, do you? Well, this is my handwriting for those numbers:
It’s obviously a series of numbers, right? I was sure everybody can easily recognize all of them, until I met my new friends here. My handwriting has a problem and they cannot recognize two of them. Ah, what’s wrong with my numbers? They are so perfect
.
Unfortunately, they are my 7 and 9. When I wrote “7″, my friend asked me: “What is it?” I answered proudly, “It’s seven”. “Oh, so it’s your seven”, he replied. I’m in silent then, thought what should 7 be?
Next, I have to write down “9″ and you can see my 9 from the above figure. Well, my friend asked me: “Ummm, and what is that?”. I answered, “It’s nine”. “Oh, so it’s your nine. It’s quite different.”
I wonder how they write “7″ and “9″. And,when I see their handwriting:
Gosh, it’s same! Well, a little bit different, in fact. But, still, it’s same!!!
On the other occasion, I had a conversation with two other friends. I don’t remember what I was talking about. Eventually, I asked: “It’s 六 (read: liù)?”,which means “It’s six?”. They answered, “Eh???” Okay, my Chinese was so poor, I used gesture then. “It’s 六?”, while I showed them my hand, just like this:
“No, no, no…”, they replied. “One, two, three, four, six…” (they were counting in English) and continued,”Six!” while showed their hands:
Gosh, I told it’s six from the first time! And why did they show their six by using a bull’s-horn-gesture? I mean, this is six:
Why do you need to add your pinkie? You want to make a pinkie swear? LOL. I asked them, “Why does your six like that?”. They answered, “We don’t know, but in here we use it as six.”
It’s just a number, really! There are only 10 different numbers. But, yeah, this is a different culture.
Culture Shock: Workaholic – Saya Masih Suka Bermain
Menjadi mahasiswa perantau di negeri orang tentu membuat kita mengalami yang namanya culture shock. Baik dalam kehidupan perkuliahan, maupun kehidupan sehari-hari di dalam masyarakat negeri yang baru tersebut. Pelajaran pertama yang saya terima di minggu-minggu pertama, bahkan saya masih berjuang untuk beradaptasinya setelah sekian lama adalah: Workaholic! Yah, istilah ini tentunya biasanya sering diberikan pada orang-orang yang mencari uang dari pagi sampai tengah malam dan identik dengan gila uang.
Saya sendiri dari dulu sampai sekarang tentunya menganut prinsip “homo ludens“, manusia sebagai makhluk yang suka bermain. Yah, tentu saja ini bukan berarti saya malas lho, tapi menurut penelitian, masa-masa seperti saya ini (hingga usia 22-23 tahun), minimal harus meluangkan waktu 60% untuk bermain, selanjutnya hingga sekitar umu 40 tahun sebaiknya menyisihkan 45% waktunya untuk bermain. Jadi, saya hanya mencoba menjalani hidup saya dengan seimbang berdasarkan amanah penelitian tersebut. *alibi* LOL
Oke, terlepas dari ketaatan saya akan penelitian tersebut (baca: kemalasan), tapi seingat saya, sepanjang hidup saya di Indonesia, masa-masa paling berat adalah masa SMA, di mana saya sekolah sampai sore, les berbagai macam hingga malam, dan sampai rumah benar-benar dalam kondisi lelah dan siap tidur. Tapi, perlu diingat, sabtu minggu libur yah itu! Ditambah libur natal, lebaran, imlek, akhir tahun ajaran. Yah, setidaknya bisa menarik napas panjang lha. Itu masa paling berat.
Coba kita lihat masa setelah itu…





