Nyasar Di Hutan Buku

Suatu sore setelah maraton ujian 6 jam, saya pun dengan sigapnya meluncur berkeliling ibukota. Satu tempat baru saya sasar. Eslite Bookstore namanya. Setelah mencari lokasi tempat tersebut dari GoogleMaps dengan StreetViewnya (gila, canggih banget teknologi yang satu ini, baru sadar.. lol) dibantu seorang teman lokal saya pun merancang rute mencapai tempat yang cukup asing ini. Teman saya bertanya dengan bahasa inggris acak kadut campur mandarin, intinya: “Yakin lo mau pergi sendiri? Ga minta siapa nemenin gitu?”. “Ya elah, emang situ mau nemenin”, sahut saya sekenanya yang dibalas dia dengan tatapan heran dan balasan: “What you say?”. Sekian menit setelah mengumpulkan soal ujian bertajuk Modern Control Design Theory, dengan senyam-senyum kemerdekaan, meluncurlah saya menuju TKP.

Rada panik juga ini nyampe di perempatan yang kayanya kalo di StreetView udah bener tempatnya tapi apa daya gagal menemukan lokasi tersebut, masuklah saya ke stasiun MRT dan membaca peta buta yang terpampang di dinding pintu masuknya. Jreng-jreng-jreng, okeh, tidak begitu jauh melesetnya, dan saya pun melanjutkan aksi gerilya menyerbu tempat tersebut.

Ya ampun, beneran deh, ga keliatan tanda-tanda kehidupan tempat tersebut. Tiba-tiba, mata saya melirik gadis manis yang tengah kehujanan berlari memasuki suatu gedung tinggi. Aha!!! Starbucks! Hampir aja tergoda buat mampir, namun satu kalimat pendek di atas Starbucks membatalkan niat tersebut. Ternyata gedung tempat Starbucks itu berada adalah Eslite Bookstore! Yippie.

Kenapa saya mau ke sini? Karena, percaya atau tidak, ini adalah toko buku 24 jam pertama yang pernah saya masukin. Sebagai perwujudan pernah kekunci di Gramedia Merdeka, padahal baru jam setengah 10, saya penasaran donk kaya gimana toko buku yang katanya memiliki gedung berlantai 6 tersebut.

Jreng, masuk ke sini koq kaya ke mall yah? Kanan kiri, kulihat toko baju. Naik ke lantai berikutnya, saya melihat pemandangan luar biasa! Satu lantai penuh berisi buku, dan lucunya satu lantai ini mayoritas isinya majalah, di samping buku panduan travelling yang mayoritas berjudul Lonely Planet. Kebayang ga sih, berapa banyaknya majalah yang ada di sana. Pertama saya tengok, udah hopeless dengan tulisan-tulisannya yang semua tidak ada yang saya mengerti, tiba-tiba muncul tulisan Inggris, yeah! Dan, wohooo, lengkap banget ini. Ada juga majalah dari Jepang, dan beberapa tulisan aneh yang tidak saya kenali. Dahsyat! Ini koleksi majalah terlengkap yang pernah saya jumpai. Dan, kembali soal koleksi Lonely Planet yang ada, silakan sebutkan semua judul LP yang anda tahu, niscaya bisa didapatkan di rak tersebut dengan jumlah yang sangat banyak! Sekian rak terisi penuh dengan buku biru panduan umum untuk para turis di seluruh penjuru dunia.

Bosan melihat majalah-majalah, naiklah saya ke lantai berikutnya. Saya pun terdiam. Seriusan deh, ini ga tau musti ke mana.

Baca peta dulu! Saya pernah datang ke banyak perpustakaan di ibukota. Perpustakaan umum, perpustakaan universitas ternama, hingga perpustakaan keliling. Sampai saat ini, saya masih bisa memindai dengan baik lokasi penyimpanan, karena, seberapa besar sih perpustakaan di Indonesia? Bahkan yang terbesar sekalipun. Ini kutengok tak kutemukan jalan keluar. Berbentuk nyaris berupa labirin-labirin yang membedakan jenis buku yang ada, saya pun masuk ke bagian Literature, kiri Classic Literature, kanan Chinese Literature.

Belok kanan boleh langsung (maklum di sini, posisi setir mobil di kiri), saya pun masuk ke labirin Chinese Literature. Wow, desainnya macam jaman baheula. Melangkah beberapa puluh kaki melintasi lorong tersebut, saya disambut tulisan Mystery, dengan Horror & Thriller di bagian kanan dan General Fiction di bagian kiri. Di tengahnya, buku Sherlock Holmes tersusun apik membentuk gambar siluet yang langsung membuat saya berpikir: “Baru tau gue ada buku Sherlock model gini!”.

Saya pun melirik-lirik buku di sana. Ya ampun, buku versi Inggrisnya harganya sama kaya novel terjemahan di tanah air. Murah sekali. Hampir tergiur buat ngeborong, untungnya saya masih dapat meneguhkan hati dan kembali mengingat kalo belom gajian :( . Okay, jalan-jalan ke lorong berikutnya. Jreng-jreng-jreng, ini apaan yah? Koq modelnya sama kaya lantai 2 perpustakaan pusat ITB? Ada meja, dikelilingi kursi-kursi. Melangkah lebih jauh, lho, ini orang pada ngapain? Koq kaya ada seminar apa gitu?

Ternyata yah, mereka semua lagi baca buku. Mulai mikir, “Gue ga salah masuk kan? Ini toko buku kan, bukan perpus.” Tapi, semakin melangkah melewati lorong-lorong ini, saya melihat semakin banyak tempat duduk dan meja, yang tentu saja ditujukan bagi pengunjung yang ingin menikmati buku bacaan di tempat tersebut.

Tidak berapa lama:

Buat yang mau baca buku di tempat, tapi lapar? Jangan khawatir. Layaknya Gramedia di Grand Indonesia, di sini juga ada cafe, Eslite Tea Room namanya. Saat saya membaca plang yang ada di depan cafe tersebut. Oh no, cafenya buka sampai 2 am. What a wonderful cafe! Sayang ga 24 jam juga kaya toko bukunya. Ya elah, what more do you expect? Udah keren banget ini juga.

Jalan-jalan lagi masih di lantai yang sama dan saya mulai mikir. “Gw tuh udah naek eskalator lagi blom sih? Ini koq gede bener sih. Duh, ini di mana? Mama, saya kayanya nyasar deh.” Ya ampun, saking asyiknya jalan-jalan, saya sampe lupa arah. Tiba-tiba tertulis “Arts”. Dan, oh no!

Anda bisa melukis di sebuah sudut lain di lantai ini! Dinding-dindingnya ditempeli banyak hasil karya entah siapa. Tersedia beraneka ragam cat dan canvas. Waduh, ini seniman terfasilitasi sekali lha, nengok dikit buku-buku design tersusun rapi siap untuk dinikmati. Kurang inspirasi, jendela menghadap ke luar siap memberi pemandangan Taipei 101. Sangat memanjakan buat anda yang iseng mau menggambar di toko buku :) . Ah, panjang sekali perjalanan ini. Tak terasa sudah 1 jam dan saya masih berkutat di lantai yang sama. Bergegaslah saya mencari eskalator dan menaiki satu lantai lagi. Wohoooo.. Masih buku, dan ini adalah Children Area! Satu lantai dipenuhi berbagai buku bacaan, alat tulis, alat kreatifitas dan segala pernak-pernik yang berhubungan dengan si kecil. Duh, banyak banget anak-anak yang berkeliaran di lantai ini, okeh, sebelum saya menyenggol anak kecil, bergerak naik! Di lantai berikutnya, masih berupa pernak-pernik lucu nan ajaib. Stiker unik, serta beberapa peralatan hasta karya disertai tempat menjual bungkus kado yang memakan hampir seperempat lantai!

Di tingkat terakhir gedung ini, saya melihat tempat yang dikhususkan untuk seminar atau pun acara lain. Ruang serbaguna lah, dan disebelahnya terlihat satu lagi cafe. Ehm, tepatnya bar sih, karena lebih banyak wine daripada cemilannya. Dan tentu saja disuguhkan kembali kepada para pengunjung tempat ini, bacaan yang amat sangat banyak!

Hari sudah malam dan tampaknya MRT akan sangat padat, saya pun bergegas turun. Oh, ternyata masih ada lantai B1 dan B2. Muacem-muacem isinya deh, dari jualan baju, sampe makanan. Tapi, wait…. Ini jalan keluarnya ke mana yah? Ya ampun, saya nyasar lagi kayanya. Segede apa sih emangnya tempat ini sampe bisa ga tau jalan keluar gini! Lagi panik cari pintu keluar, eits, saya berhenti. Tatapan saya tertuju pada tulisan lucu yang jadi merek toko baju. Tuan-tuan, dan nyonya-nyonya, silakan lihat:

Hahaha, jauh-jauh ke negeri orang, ngeliatnya bahasa ibu juga. Ampun dah.

Okay! Lanjoet! Ke mana kah jalan menuju pintu keluar? Selidik, punya selidik, saya pun menemukan pintu keluarnya, tapi, eh, koq beda sama pintu masuknya yah? Ternyata, emang salah pintu! Hahaha. Yaudah lah yah, yang penting bisa keluar toh.

Well, in my opinion, ini dia toko buku yang bisa memfasilitasi hasrat menikmati buku dengan sangat optimal. Even saya tidak menemukan satu pun buku berbahasa Indonesia di sini, tapi koleksi di sini saya bilang amat sangat lengkap. Ga cuma novel, komik, buku pelajaran, bahkan sampai untuk hal-hal aneh apapun ada semua di sini. Mantab lah. Bahkan saya nemuin majalah model kereta api sampe 10 biji donk di sini.

Panteslah kalau si pemilik memutuskan untuk membuka tokonya 24 jam, karena orang juga dateng ke situ bisa ada kerjaan :) . Abis liat ini toko, pengen bikin perpustakaan sendiri jadinya. Woi, belajar dulu yang bener! Eh, tapi yah, selain terkesan dengan Eslite ini, saya mendapatkan quote yang sangat bermanfaat.

Untuk kamu yang lagi patah hati, kamu yang sedih nilai ujian jelek, kamu yang bingung koq ga dapet-dapet kerjaan, kamu yang memikirkan cara untuk bunuh diri, atau kamu yang sendiri di depan komputer karena orang yang kamu tunggu-tunggu ga pernah membalas sms kamu bahkan tidak pernah menghubungi kamu. Tenang saja kawan! Ini dia petuah yang berhasil saya abadikan dari perjalanan ke Eslite kali ini.

Ayo, apapun masalahnya, maen aja yuk! Pasti seneng lagi deh.. Hahaha..

Okay, sekian laporan dari Eslite, sampai berjumpa di tempat-tempat selanjutnya.

Advertisement

Tags: , ,

4 Responses to “Nyasar Di Hutan Buku”

  1. alienkeren says :

    tidur disana eng! tidur disana!!!
    LOL

  2. Naila says :

    huaaaaaaa..
    kalo gw kesitu ga bakal pulang kali yaaa..
    ga bakal puas bacain bukunya satu demi satu..
    irii..

Trackbacks / Pingbacks

  1. Christmas Without Santa and Tree « sam.si - December 11, 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,338 other followers