Archive | October 2010

Siapa Bilang Situ Boleh Ga Bisa Ngoding?

ACM menampilkan artikel yang sangat menarik dan contoh yang dipakainya pun pernah saya alami. Saya yakin sebagian besar sarjana lulusan Teknik Informatika, Ilmu Komputer, atau jurusan sejenis juga pernah mengalami dan merasakan hal-hal yang dikisahkan pada artikel di atas. Tulisan berikut ini hanya mencoba untuk membuat artikel tersebut lebih terasa nyata dengan kehidupan para informatikawan dan informatikawati di tanah air.

Saya ingat di masa tahun pertama kuliah sarjana saya, seorang dosen berkata, “Kamu itu calon sarjana, bukan ikut kursus komputer. Kamu dididik untuk jadi software developer, bukan programmer. Kalau kursus, 3 bulan kamu udah jago ngoding C++, Java, PHP. Tapi ga ngerti bagaimana membuat aplikasi yang baik. Saat kamu jadi sarjana, kamu harus bisa mendesain aplikasi atau sistem………” Masih panjang lah kata-katanya. Maklum, dosen tersebut seperti layaknya seorang ibu buat kami semua. Dan, ciri khas ibu-ibu, bawel banget! Kalau mau nyuruh makan ikan tim, si ibu bakal ngomong bagaimana ikan itu hidup sehingga sangat sehat, dan ditim sehingga kandungan gizi yang hilangnya lebih sedikit. Ah, ribet dah! Coba kalo bapak-bapak, “Ikan timnya dimakan!”. Selesai. LOL.

Ok, saya tidak bilang itu buruk. Itu bagus, sangat bagus malah! Setiap dari kita kayanya pernah mengalami kejadian serupa. Intinya, para dosen menginginkan kita bukan cuma bisa ngetik int main () { std::cout << “System starts!” << std::endl; for (int i=0; i < 0; ) std::cout << “I’m cool” << std::endl; std::cout << “System stopped!” << std::endl; return 0;} lalu 2 hal berikutnya yang kita lakukan: mengetik cc test.cc & ./a.out dan bilang ke temen sebelah kita, “Gila nih, komputernya aja ga bisa berhenti bilang kita keren!”. Ah! Kaya anak SD banget becandaannya. Percaya ato ga, saya pernah menerima becandaan kaya gitu. Bedanya, orang itu menulis dalam BASIC.

Dosen kita tentunya mau kita ga jadi kaya gitu. Kita harus bisa menganalisis suatu masalah, membuat desain solusi, dan menerapkan teknik-teknik implementasi yang tepat, dengan menyiapkan metode pengujian, dan tentunya tidak lupa menyiapkan agar desain tersebut bisa dengan mudah dikembangkan lebih lanjut. Itu lah kenapa dikenal dengan computer science. Ada landasan ilmiahnya . Tapi, sayangnya beberapa orang lupa kalo computer science pada praktiknya bukanlah 100% pure science.

Computer science combines aspects of science, math, and engineering, often using computers. For almost all people in CS, it is an applied field.

Begitu ungkap Bjarne Stroustrup, yang harusnya merupakan tokoh yang tidak asing lagi bagi kita di dunia ini. Sayangnya dan sedihnya, beberapa kata-kata yang meluncur dari dosen-dosen saya yang sudah lama malang-melintang di dunia ini cukup membuat sedih. “Saya sih percaya saja sama program kamu, saya udah lama ga coding.”, atau “Keahlian saya sekarang di bidang blablabla (menyebutkan salah satu keahlian spesifik di bidang basis data), jadi udah ga bisa bikin program.”, dan yang paling jujur, “Saya ga bisa ngoding“. Sebagian besar alasannya karena sibuk. Sibuk mengajar, sibuk meneliti, sibuk mengurusi hal-hal yang lebih akademis, katanya. Stroustrup seorang profesor, dia mengajar, dan juga dia menjadi ehmm, kajur ato kaprodi lha kalo di Indonesia. Tapi, coba anak-anak, siapa yang ga kenal sama C++? Bahkan, saat saya tidak bisa bicara Mandarin dengan baik, saya tinggal menuliskannya dalam C++ dan orang Taiwan langsung mengerti. Yeah, universal language in the computer world. Saya yakin si penciptanya yang juga seorang akedemisi ini, ga mungkin banget mendesain, mengimplementasi dan mengujicoba bahasa ini tanpa bisa ngoding. Saya juga percaya, di tengah kesibukannya sekarang sebagai seorang profesor universitas ternama, dia masih bisa melakukan apa yang sering kita bilang ngoding.

Nah, sayangnya, beberapa dari kita sering beralasan, saya ga mau jadi developer, saya mau jadi analis aja, atau perancang deh. Orang lebih memilih Rekayasa Perangkat Lunak (RPL) karena beranggapan ga udah bikin program. Itu dia masalahnya! Kita cenderung bertameng di balik keahlian khusus kita. Faktanya adalah, selama kita bermain di industri yang berbau-bau software development. Either itu sebagai software developer, software engineer, test engineer, system implementer, system integrator, atau apapun julukan lainnya. Harusnya kita menguasai cara membuat suatu aplikasi yang baik. Dan ini bukan hanya ngoding. Bagaimana seorang software engineer yang mengambil keahlian RPL mendesain suatu objek, kelas, method, dan semua hal dalam paradigman OOP, namun dia tidak tahu apa dan bagaimana proses refactoring? Bagaimana seorang test analyst ingin menguji coba aplikasi yang dibuat rekannya, namun tidak tahu regression test dan bagaimana melakukannya? Lebih parah lagi jika seorang software developer yang bergabung dengan perusahaan pengembang aplikasi sayangnya dia tidak tahu makhluk yang namanya version control system!

Terlalu banyak memang hal yang harus dipelajari di dunia ini dan hal tersebut lagi-lagi dijadikan alasan agar kita bisa mencari tahu sendiri. Kita bisa berlatih menggunakan perangkat-perangkat yang dibutuhkan nanti kalau memang kita akan berkecimpung di bidang tersebut. Dan akhirnya, dari semua pembelaan tersebut, universitas yang menawarkan jurusan ini lebih fokus memberikan kuliah yang menurut saya tidak beda dengan kuliah di jurusan sosial. Lebih banyak hafalannya ketimbang aplikasi nyata. Di basis data kita harus menghafal normalisasi yang ada, di jaringan komputer kita susah dapet nilai bagus kalau tidak hafal 7 layer OSI, di sistem operasi kita bisa gagal kalo ga bisa memberikan definisi multithread, multicore, multiprocessing, dan yang gaulnya di kuliah rekayasa perangkat lunak, kita harus tahu semua metode-metode perancangan dan pengujian yang ada serta sanggup menuliskan semuanya di dalam lembar ujian tanpa melirik kanan kiri dan mengandalkan otak kita semata. Prakteknya hanya diberikan dalam bentuk tugas atau mungkin praktikum seminggu sekali.

Nyatanya, seorang yang mendapat nilai sempurna di kuliah algoritma, struktur data, dan RPL bisa anjlok dan tidak mengerti apa-apa di kuliah sistem operasi. Padahal, sistem operasi dibentuk dari suatu rancangan perangkat lunak yang terdiri dari algoritma dan struktur data.

Tapi, setelah lulus, saya jadi sadar. Dunia informatika di Indonesia memang berbeda. Berapa sih gaji developer? Berapa banyak sih perusahaan yang butuh software engineer? Kalau orang bilang kerjaan IT banyak, termasuk di Indonesia, maka saya mau mengatakan kalau kerja IT di Indonesia ujung-ujungnya konsultan dan teman-teman. Kebutuhan software developer/engineer biasanya datang dari teman-teman UKM yang berjuang untuk hidup di tengah geliat serangan aplikasi asing. Akhirnya, paradigma “sarjana informatika ga usah bisa ngoding” semakin terbentuk di pikiran banyak dari kita. Ga ada yang butuh, giliran ada yang butuh, pasti ga sanggup ngasi gaji gede. Mending jadi konsultan, ga usah ngoding gaji selangit. Ga bisa disalahkan juga toh. Yang memang memiliki kemampuan ngoding biasanya hengkang ke negara lain.

Tapi, melirik kemajuan dunia dan negara lain, sebagian besar dunia ini tergantung dari perangkat lunak. Direksi IPTN berkata, “Industri pesawat sebenernya sekarang itu lebih di bagian perangkat lunaknya. Manufakturingnya tidak akan berkembang terlalu banyak.”. Kereta api sudah dikontrol oleh komputer, bandara, pembangkit listrik, rumah sakit, bahkan pos sekalipun tak bisa terlepas dari komputer. Apa jadinya kalau orang Indonesia tidak bisa membuat aplikasi sendiri? Jangan dulu bermimpi untuk membuat sistem operasi layaknya Linux, Windows, ataupun MacOS. Masih banyak celah-celah lokal yang harus diisi oleh developer lokal. Dan yang harus selalu diingat, biasanya kemajuan aplikasi dapat menunjang kemajuan produk lain. Lihat RIM dengan Blackberrynya. Apa yang membuat dia begitu laris manis? BISnya yang tentu saja dibangun terutama pada lapisan aplikasinya.

Di penghujung tulisan, saya hanya ingin mengingatkan. Untuk semua mahasiswa yang sedang mengejar gelar di bidang informatika, ataupun ilmu komputer. Percayalah, saat anda memutuskan anda tidak usah bisa ngoding dan saat anda percaya kemampuan ngoding bukanlah mandatory di informatika/ilmu komputer karena toh anda ngambil keahlian database, mungkin RPL, atau malah Sistem Informasi. Percayalah, saat itu juga berarti anda telah lupa (atau bahkan tidak pernah tahu) apa itu ilmu komputer sebenarnya. Saat anda memutuskan seperti itu, percayalah, anda turut andil dalam mengurangi prospek dan kesempatan negara anda untuk bisa bangkit dan maju mengejar ketertinggalannya.

Karena informatika bukanlah politik, dia itu ilmu pasti
Karena informatika bukanlah sekadar teori, tapi dia harus dapat diterapkan
Karena informatika bukan hanya membuat program,
Tapi jelas saat anda memilih dunia ini, anda harus dapat melakukannya.

Ya elah, Pak!

Jakarta banjir, Jakarta macet. Biasa banget yah. Bosen banget dengernya. Saya sudah 4 tahun lebih tidak tinggal permanen di ibukota, tapi setiap kali pergi ke sana saya selalu berharap, semoga saya ga terjebak berlama-lama di kota itu.

Hari ini, Jakarta menggelar acara pertemuan gubernur dan wali kota Asia dan Eropa. Wah, pertama baca, keren banget dengernya. Setelah ditilik-tilik, ternyata termasuk cuma 9 kota yang mengirimkan wakilnya, dan hanya 2 yang dari Eropa. Well, oke lah, maklum, hajatan pertama ini. Fauzi Bowo sebagai Gubernur DKI Jakarta pun berkesempatan berceloteh di depan para tamu dan undangan. Sang gubernur pun meminta maaf soal kemacetan di Jakarta. Lucunya……

“Saya minta maaf untuk kemacetan yang Anda alami di Jakarta selama di sini. Ini karena makin banyaknya orang yang hidup di kota ini dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat,” ungkap Foke, begitu panggilan akrab Fauzi Bowo, di depan para delegasi kota.

Read More…

Nyasar Di Hutan Buku

Suatu sore setelah maraton ujian 6 jam, saya pun dengan sigapnya meluncur berkeliling ibukota. Satu tempat baru saya sasar. Eslite Bookstore namanya. Setelah mencari lokasi tempat tersebut dari GoogleMaps dengan StreetViewnya (gila, canggih banget teknologi yang satu ini, baru sadar.. lol) dibantu seorang teman lokal saya pun merancang rute mencapai tempat yang cukup asing ini. Teman saya bertanya dengan bahasa inggris acak kadut campur mandarin, intinya: “Yakin lo mau pergi sendiri? Ga minta siapa nemenin gitu?”. “Ya elah, emang situ mau nemenin”, sahut saya sekenanya yang dibalas dia dengan tatapan heran dan balasan: “What you say?”. Sekian menit setelah mengumpulkan soal ujian bertajuk Modern Control Design Theory, dengan senyam-senyum kemerdekaan, meluncurlah saya menuju TKP.

Rada panik juga ini nyampe di perempatan yang kayanya kalo di StreetView udah bener tempatnya tapi apa daya gagal menemukan lokasi tersebut, masuklah saya ke stasiun MRT dan membaca peta buta yang terpampang di dinding pintu masuknya. Jreng-jreng-jreng, okeh, tidak begitu jauh melesetnya, dan saya pun melanjutkan aksi gerilya menyerbu tempat tersebut.

Ya ampun, beneran deh, ga keliatan tanda-tanda kehidupan tempat tersebut. Tiba-tiba, mata saya melirik gadis manis yang tengah kehujanan berlari memasuki suatu gedung tinggi. Aha!!! Starbucks! Hampir aja tergoda buat mampir, namun satu kalimat pendek di atas Starbucks membatalkan niat tersebut. Ternyata gedung tempat Starbucks itu berada adalah Eslite Bookstore! Yippie.

Kenapa saya mau ke sini? Karena, percaya atau tidak, ini adalah toko buku 24 jam pertama yang pernah saya masukin. Sebagai perwujudan pernah kekunci di Gramedia Merdeka, padahal baru jam setengah 10, saya penasaran donk kaya gimana toko buku yang katanya memiliki gedung berlantai 6 tersebut.

Jreng, masuk ke sini koq kaya ke mall yah? Kanan kiri, kulihat toko baju. Naik ke lantai berikutnya, saya melihat pemandangan luar biasa! Satu lantai penuh berisi buku, dan lucunya satu lantai ini mayoritas isinya majalah, di samping buku panduan travelling yang mayoritas berjudul Lonely Planet. Kebayang ga sih, berapa banyaknya majalah yang ada di sana. Pertama saya tengok, udah hopeless dengan tulisan-tulisannya yang semua tidak ada yang saya mengerti, tiba-tiba muncul tulisan Inggris, yeah! Dan, wohooo, lengkap banget ini. Ada juga majalah dari Jepang, dan beberapa tulisan aneh yang tidak saya kenali. Dahsyat! Ini koleksi majalah terlengkap yang pernah saya jumpai. Dan, kembali soal koleksi Lonely Planet yang ada, silakan sebutkan semua judul LP yang anda tahu, niscaya bisa didapatkan di rak tersebut dengan jumlah yang sangat banyak! Sekian rak terisi penuh dengan buku biru panduan umum untuk para turis di seluruh penjuru dunia.

Bosan melihat majalah-majalah, naiklah saya ke lantai berikutnya. Saya pun terdiam. Seriusan deh, ini ga tau musti ke mana.

Read More…

Lain Ladang Lain Belalang

Kalau anda pernah mengenyam pendidikan dasar di Indonesia, pasti anda bisa menuliskan empat kata yang dapat melengkapi frase judul tulisan ini. Betapa tidak, peribahasa ini termasuk peribahasa paling populer di samping “Rumput tetangga selalu lebih hijau” dan diajarkan selalu kepada segenap anak SD seantero negeri. Ibaratnya, kalau anak di pulau paling terpencil di Indonesia masih wajar kalau tidak tahu presiden Indonesia saat ini siapa (hey, percaya ato ga, masih ada lho kasus ini!), tapi ga mungkin lah ga tahu peribasa yang satu ini.

Lalu, apa makna peribahasa di atas? Tentunya soal ini sangat familiar terutama saat ada ulangan mencongak di kelas 3 atau 4 :) , jadi tentu saja saya tidak akan membahas jawaban yang sudah diketahui penduduk seantero negeri 17.000 pulau. Beberapa ratus kata berikut ini akan menceritakan kisah unik yang menjadi contoh kasus nyata dari peribahasa tersebut.

Saya memiliki seorang teman, sebutlah Cisi (duh, jadi pengen makan pizza cisi bite, ok ga penting), dia mengikuti program magang dan mari kita katakan takdir membawa dia terdampar di kota yang tidak jauh dari kota saya berdomisili sekarang. Di negara yang mayoritas penduduknya lebih gampang diajarin main congklak daripada berbahasa inggris dengan baik ini, dia diberi amanah mulia, yaitu: mengajarkan bahasa internasional tersebut kepada para anak SMP di negeri ini. Kalau saya akan memilih ngajarin mereka maen congklak tentu saja :) .. Back to the topic, selama proses magang, dia diberikan akomodasi dan makanan yang layak. Namun, sayangnya tanpa gaji yang biasa sering disebut sebagai uang saku bulanan oleh perusahaan multinasional.

Singkat cerita, saya bilang aja: “Mending abis beres magang, lo ngajar beneran, dapet gaji lumayan banget itu di sini mah, daripada lo susah-susah cari kerja di Indo lagi. Dapet lah minimal 6 juta sebulan.” Dia membalas dengan sedikit heran, “Emangnya segampang itu yah cari kerja di sini?”. Saran lain yang saya tambahkan, “Iya, abis itu lo ambil S2 di sini, dapetlah tambahan minimal 3 juta, atau kalo hoki 10 juta per bulan. Uang sekolahnya ga usah bayar pula, itung-itung kerja dapet gelar lha :) “. Dia membalas, “Beneran tuh sebanyak itu kesempatan yang ada di sini???”,  pertanyaan retoris yang disertai nada sedikit tidak percaya.

Di lain kesempatan, muncullah sesi curhat-konsultasi-omongan geje saya bersama saudara. Saya pun bercerita tentang kisah Cisi dan menyampaikan keraguan yang dimiliki Cisi. Kalimat yang meluncur dari mulut saudara saya, “Pembantu Indo aja kerja di sini, bisa jadi kaya. Apalagi udah bergelar kaya lo! Liat tuh, pembantu ga ada yang mau pulang dari sini.” (Udah terbukti dengan percakapan geje saya di jalan sama pembantu di apartemen sebelah). Saya pun bertanya, “Emang ga ada pengangguran banget yah di sini?” Jawabannya simple: “Yang nganggur mah cuma yang males, mau kerja dikit gaji selangit. Kalo mau usaha mah pasti jadi duit. Nyapu di jalan tuh enak. Cuma kerja jam 9 sama jam 3, gaji 6 juta rupiah sebulan.” (mulai mikir: apa nyapu jalanan aja yah gw? sama nih sama gaji freshgrad di T*lk*ms*l).

Sorenya saya berbelanja di supermarket yang amat sangat besar. Saya tahu sih, standar hidup masyarakat di negara maju dan tingkat kesejahteraan mereka lebih tinggi dibanding warga negara-negara berkembang. Tapi yah, coba bayangkan, apa iya sampe segitu majunya sampe-sampe: jatoh dari tangga di MRT bisa nuntut dan dapet duit (even, jatohnya gara-gara meleng lirik cewe kece di eskalator sebelah), pesawat delay nuntut maskapai dan dapet duit, sakit dapet duit, bahkan waktu Imlek di masa krisis kemarin, setiap orang dapet duit!!! Ya ampun. Duitnya dateng dari mana sih? Intinya sih, saya berada di tengah orang-orang yang tidak berpikir beli susu, beli makan, beli roti, atau jalan-jalan keluar negeri itu membutuhkan sesuatu saking mudahnya mendapatkan makhluk yang bernama duit.

Eits, tapi hal tersebut tidak membuat orang jadi ga pengen duit yah! Tetep aja, kerja 5 1/2 hari itu standar, bahkan 6 dan 7 hari seminggu untuk kerja itu sudah biasa. Bonus 12-24 kali gaji setahun ga membuat orang berhenti bekerja (total 36x gaji setahun? wow, angka yang fantastis tentunya!). Well, di hari bacang (buat yang bukan etnis Tionghoa, silakan tanya temennya yang kulit kuning langsat dan mata sipit: hati bacang itu apa sih? :p), biasanya di perusahaan-perusahaan ada door prize, yang hoki, adalah dapet harta yang ga abis 2 turunan. Nah, kalo udah kaya gitu, pasti ada lah 1 atau 2 orang yang langsung memilih pensiun, sisanya? Tetep aja kerja. Seriusan deh, bahkan mereka miskin semiskin-miskinnya ga punya duit buat beli makan aja tinggal telepon 3 nomor dari telepon apapun bisa langsung dijemput dikasih makan koq!!! Parah banget ini, beneran deh ini, duitnya tinggal metik kayanya mah. (btw, buat para backpacker yang ga punya duit lagi di sini, telp aja 3 nomor itu, langsung dijemput, dikasih makan, dikasih tempat tinggal, bonus dianterin ke airport buat pulang, tentu aja tiketnya beli sendiri yah.. lol)

Enak kah? Pertanyaan berikutnya saya lontarkan kepada saudara saya: “itu *nunjuk ke anak sodara saya yang masih bisa ditendang-tendang saking kecilnya* mereka ga pernah maen ke rumah temen emangnya?”. Jawabannya cukup mengagetkan: “Duh, orang sini mah jahat-jahat. Ada anak dateng ke rumah lo, pulang-pulang tiba-tiba dia manjat pohon dan jatoh di rumahnya, bisa-bisa orang tuanya bilang jatoh di rumah lo. Lo dituntut, disuruh bayar ganti rugi bisa-bisa. Jadi, di sini ga ada yang mau nerima anak orang lain, dan orang-orang juga tau diri ga mau ngizinin anaknya maen ke rumah orang lain.” Ya ampun, perasaan waktu saya kuliah-SMA-SMP-bahkan SD sekalipun, saya santai-santai aja deh maen ke rumah temen-temen saya. Kasihan sekali anak-anak di sini.

Di sisi lain, usia pernikahan di sini pun semakin bertambah. 30 tahun wanita melajang itu hal biasa. 40 tahun tidak menikah juga tampak wajar baik bagi pria maupun wanita. Akibatnya, usia produktif berkurang. Masalah yang tampaknya dialami semua sebagian besar negara maju. Kenapa? Tentunya, karena sibuk menata karier, asyik mencari uang, dan kehidupan tanpa pertemanan ataupun pergaulan akrab (tapi kalo pergaulan bebas mah biasa banget :) )..

Dan, sepertinya negara maju yang satu sangat sulit belajar dari negara maju yang lain. Kemajuan suatu negara membuat masyarakatnya semakin soliter dan menganggap mereka adalah amoeba! Bisa mencari makan sendiri, bisa hidup sendiri, bisa beranak cucu hingga membelah diri sendiri, dan ujung-ujungnya merasa bisa memuaskan diri sendiri dari segala aspek. Sebuah pemikiran yang menyalahi teori dari Peter Berger dan Thomas Luckmann: homo socius. Manusia sebagai makhluk sosial.

Tapi, lain kolam lain ikannya. Negara maju, negara berkembang, negara setengah maju, negara maju tanpa berkembang, negara berkembang ga maju-maju, semua punya kebiasaan, sifat, budaya, maupun karakteristik masing-masing. Saat mereka lebih baik, bolehlah kita ikuti, saat mereka lebih buruk, janganlah kita turuti. Seperti itu toh teorinya. Namun, terlepas dari semua itu, hal yang lebih penting adalah: jangan terlalu sering lah membandingkan sesuatu apalagi itu suatu negara atau bangsa dengan negara/bangsa lainnya. Terlalu banyak hal yang ada di antara kedua variabel itu. Daripada membanding-bandingkan hal yang tak mungkin habis, lebih baik kita melihat lebih dalam lagi ke dalam ladang ataupun kolam tempat kita berada toh. Siapa tahu kita bisa mengembangkan ladang dan kolam kita sehingga memiliki rumput yang lebih hijau dari rumput tetangga :) .

Intinya, pesan moral tulisan ini: Jangan suka studi banding ke luar negeri, apalagi duitnya pake duit orang laen, apalagi pake duit pajak! Mubazir!

*Didedikasikan untuk lebih dari 500 orang yang bercokol di gedung botak hijau yang kerjanya sampai saat ini tidur, either di gedung botak tersebut, ataupun di negara lain. Pak, Bu, bangun donk, udah siang ini! Ngimpinya jangan kelamaan, liat tuh di jalanan orang-orang pada meninggal ga punya duit buat beli makan apalagi berobat.

One Month

I celebrate my one month in a foreign country by eating a very huge hen! I wanted to cry when I picked the last piece of that freaking crazy big hen and put it into my mouth! My next resolution to celebrate my two months in here by eating a very huge pizza. I hope I wouldn’t cry to finish it. LOL.

It’s one month and yes, it’s still a heavy work to make it one year. I have just realized several things, I faced many new things and a real culture shock. I have already survived from that. I enjoy my life. I got a very big smile on my face some days ago. I thought I’m happy. Those days.

Well, now these are a very different days. My smile was in a vain. I have to face many other things here for many months (or maybe years, I don’t know, yet).

One year later, I want to look back on these days and still believe I have a dream. So, where is my plane now? I don’t know and I don’t care. One thing I know, it will be there on the time, without any delay.

Meanwhile, I am waiting, sitting down sweetly on the bench with many people. Somehow, I just want to be you!

However, now is not the time.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,319 other followers