100 Hari: Udah, Apatis Aja!

Semua murid-murid di Indonesia yang mengenyam pendidikan di sekolah normal (bukan Nasional+ atau international school) pasti pernah mendapatkan pendidikan pancasila (entah itu P4, PPKN, PKN, atau apalah namanya itu).

Pelajaran PPKN yang sangat berkesan bagi saya adalah di masa-masa SMA. Buat saya, Pak Tri dan Bu KM membuka wawasan saya tentang arti berbangsa, bernegara, dan cinta tanah air seluas-luasnya. Bukan mengajarkan hal-hal munafik, teoritis, ataupun hafalan ga penting layaknya beberapa pengajar di tingkat pendidikan lain (mmm, kalo mau jujur, hafalan ga pentingnya banyak juga sih.. LOL.). Nah, suatu waktu, guru tersebut (lupa nih Pak Tri atau Bu KM) menjelaskan tentang Program 100 hari.

Sepertinya sih waktu itu lagi rame-ramenya program 100 hari presiden. Jadilah, kami dijelaskan kenapa yang dipakai 100 hari, dan kenapa bukan 101 hari, 100 bulan, atau 10 bulan. Pada tulisan ini, saya ga mau ngebahas teori pengambilan acuan 100 hari ini, karena memang aspek yang dipakai itu banyak banget, mulai dari aspek psikologis sampe aspek mistis. LOL.

Satu hal yang sangat saya ingat dari pelajaran hari itu adalah, sang guru berbicara seperti ini:

Kepemimpinan dan kinerja seseorang dapat dilihat dari 100 hari pertamanya. Apa yang terjadi selama 100 hari pertama, begitu pula kurang lebih yang akan terjadi pada masa-masa selanjutnya kepemimpinan seseorang. Kalau 100 hari terjadi sebuah gebrakan besar, maka yakinlah di masa selanjutnya akan ada hal-hal luar biasa yang dilakukan. Sebaliknya, jika 100 hari sudah melempem, yah udah, ga usah berharap terlalu banyak lah dari sisa masa waktu jabatannya.

Kurang lebih demikian kata-kata beliau.Dan lucunya, selama hidup saya sampai saat ini, kata-kata tersebut terbukti berlaku untuk segala jenis organisasi, perusahaan, maupun lembaga. Himpunan, unit, gereja, sekolah, bahkan negara sekalipun. Liat kinerjanya 100 hari pertama dan begitulah kurang lebih kinerjanya sampai akhir masa jabatannya.

Melihat realita bangsa yang ada sekarang ini: 100 hari pertama koq agak memprihatinkan yah??? Ok, banyak perubahan. Ok, banyak perbaikan. Tapi jauh lebih banyak kehancuran, jauh lebih banyak skandal, jauh lebih banyak kebobrokan, jauh lebih banyak pengkerdilan hak-hak warga negara (salah satunya dengan RPM Konten).

Menimbang hal-hal tersebut, kalau saya pribadi sih merasa udah ga guna berharap banyak dari pemerintah sekarang ini, apalagi dari DPRnya. Toh, nantiĀ  juga kinerjanya bakal sama kaya 100 hari ke belakang. Borok2 keluar semua. So, sekarang kalo ngomongin pemerintah, kalo ngomongin wakil rakyat, kalo ngomongin polisi, kalo ngomongin presiden, kalo ngomongin menteri, saran saya mah: Udah, Apatis Aja! Toh, ga bakal terjadi hal-hal baik yang berdampak secara signifikan dalam hidup kita.. Terlalu jauh dari impian lha.. Mari kita tatap masa depan, mari kita siapkan pemimpin-pemimpin baru yang ga melempem kaya kerupuk kebanjur aer buat 2014.

Buat mereka-mereka yang ingin jadi pemimpin publik, entah itu kahim, presiden KM, presiden RI, atau presiden bajaj sekalipun, sebaiknya selalu ingat pesan Rudy Sri Handoko dalam gambarnya berikut:

Yap, jangan banyak omong, buktiin aja kata-kata lo :) .. Talk Less Do More: Class Mild banget dah.. LOL.

-ditulis saat bosen denger berita Century yang ga ada abisnya-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,319 other followers