Read, Curse, Patch, but Don’t Throw It Away

Saat saya diwawancara salah satu perusahaan software, saya ditanya: “In your opinion, what is good code?”. Tik, tuk, tik, tuk, jam di lab sudah mendekati tengah malam, ngantuk dan dag-dig-dug takut ketinggalan MRT sayapun memulai kicauan saya. Salah satu poin kicauan saya adalah, readability of the code. Intinya, pikiran saya yang masih agak ideal waktu itu menganggap bahwa code yang baik adalah code yang bisa dibaca dan dengan mudah dimengerti oleh orang lain sehingga code tersebut di masa mendatang mudah diubah sesuai kebutuhan meski si penulis code tersebut sudah berada di antah berantah. How one can maintain code if one cannot understand it, right? With great readability comes great maintainability! :)

Coba mari kita buka lembaran-lembaran lama masa kuliah. Kalau masa kuliah itu kan rata-rata masih masa bermain dan bersenang-senang yah, jadi kalau ada tugas datang (ga peduli tugas itu kelompok atau pribadi) pasti dikerjakan untuk mencapai tujuan utama! Sesuai spesifikasi (spek) dari dosen/asisten dan disubmit sebelum setepat-mungkin-dengan deadline (syukur-syukur kalau bisa ngerjain spek bonus :)). Di masa-masa nan indah itu, kalau deadline masih hitungan minggu biasanya kodenya cantik nan ciamik. Nah, begitu H-2, H-1, atau bahkan pada hari H saat sadar kalau tugas kita masih jauh dari kata “Selesai”, mulailah kita membabi buta mengejar deadline. Kode yang tadinya masih sangat cantik dengan nama variabel: totalPembelian, jumlahUangDibayar, isLoopFinished, dll; tiba-tiba penuh dengan: i, ii, iii, a, abc, zzzzz. Apa sih itu? Ga tau, yang penting jadi dulu programnya! Hal yang bikin keki adalah saat kita harus memperbaiki kode seperti itu! Ga ada dokumentasi, ga ada penjelasan sama sekali di dalam kodenya, nama variabel yang menggunakan bahasa alien. Graoooo, minta digampar banget kan.

Itu kisah mahasiswa kan, ga masalah donk, wonk tugas itu ga bakal disentuh-sentuh lagi abis dikumpulin, iya toh? Orang yang baca kodenya juga cuma segelintir orang aja kok. Beda ceritanya kalau uda masuk ke dunia sebenarnya, ga bisa lagi kaya gitu lah, harus bersih, rapi, mudah dibaca, since hasil karya kita itu bakal dibaca dan dipakai banyak orang, belum lagi kalau mau mengembangkan proyeknya, wah prinsip readable and reusable code harus benar-benar diaplikasikan! Is it correct? Read More…

Goodbye Google Reader

People say time flies. Tanpa terasa sudah lebih dari 5 tahun saya menggunakan Google Reader. Ada yang bertanya, apa sih Google Reader? Well, cerita makhluk yang satu ini tidak mungkin lepas dari yang namanya RSS. Ceritanya begini, di internet terdapat berbagai macam artikel dan media. Si penulis artikel/penyedia media seringkali menambahkan sedikit demi sedikit artikel/medianya, atau bahasa kerennya di-update. Nah, setelah proses peng-update-an itu muncul satu masalah. Bagaimana penulis/penyedia tadi bisa memberitahu khalayak ramai  (bahasanya keren banget yah :D) bahwa dia sudah merilis materi baru?

Yeap, sebagian dari anda mungkin bertanya, lha kan ada newsletter! Yeap, anda bisa mendaftarkan diri untuk memperoleh newsletter dari si penyedia tadi. Tapi… newsletter itu kan berupa email yah biasanya (ada gitu versi lain dari newsletter?), masa iya tiap kali ada artikel baru anda dikirimin email? Coba bayangkan situs berita seperti Detik yang (meskipun beritanya kadang sering kali ga penting dan ngawur) mengeluarkan artikel nyaris setiap jam. Situs seperti itu tidak hanya 1 dan anda ingin memperoleh informasi tentang rilis artikel terbaru dari setidaknya 3 situs media favorite anda. Newsletter per artikel tampak tidak masuk akal kalau begitu. Kalau misalkan rilis newsletter 1 kali sekali mencakup seluruh artikel yang dirilis hari itu gimana? Bisa aja, tapi informasi ada materi baru di situs favorite anda jadi engga afdol lagi donk? Artikel basi malah jadinya.

Nah, masalahnya sekarang, bagaimana agar pengunjung/pembaca sebuah situs tau bahwa ada update terbaru di situs yang mereka kunjungi?

Read More…

Made in China

Well, siapa sih yang ga pernah liat 3 kata yang menjadi judul ini. To be honest, mungkin saya sedikit typo. Mungkin saja 3 kata yang anda lihat: “Made on China”, “Maed in China”, “Mde in China”, atau jutaan kombinasi lain yang menyerupai 3 kata di atas. Produk buatan negeri tiongkok atau dikenal dengan nama People’s Republic of China membanjiri seluruh dunia dan memang bukan hal yang baru lagi ini mah. So, artikel ini agak basi yah kalau hanya menuliskan banyaknya produk buatan PRC di segala penjuru dunia saat ini. Bicara soal kualitas: “It’s horrible!”. Banyak yang bilang 90% produk buatan negeri dengan penduduk terbanyak ini gampang rusak dan bahkan bukan rahasia umum lagi kalau teman kamu mendengar kamu mau beli barang buatan negeri ini, mereka akan bilang: “Jangan, cari yang lain aja, itu buatan Cina”. So, kenapa hampir semua perusahaan tetap berlomba-lomba memproduksi barang mereka di sana? Kenapa “Made in China” masih meraja rela?

Read More…

Attitude To Learn

Learning is a never ending process.

Saya rasa sebagian besar dari kita tahu itu dan percaya bahwa itu benar. Setelah lulus dari tempat kita menuntut ilmu (sekolah/universitas/tempat kursus), bukan berarti kita berhenti untuk belajar. Di tempat kerja, di rumah, bahkan di jalan, kita bisa belajar sesuatu, baik dari rekan kerja, keluarga, atau orang asing yang belum kita kenal sebelumnya.

Seorang teman beberapa hari lalu memberikan saya sebuah link yang cukup “lucu”: http://www.slideshare.net/olvemaudal/deep-c. Kalau anda seorang yang berkutat di area software developing, khususnya yang menggunakan C/C++ sebagai bahasa utama anda, mungkin materi di sana sangat berguna. Untuk yang lain, saran saya tidak usah dibuka :). Intinya, si Olve Maudal dan Jon Jagger menuliskan bagaimana dua orang software developer mengerti konsep yang ada dalam kedua bahasa tersebut. Kemampuan dan konsep yang dimiliki keduanya berbeda, di mana yang satu hanya tahu bagaimana menggunakan, sedangkan yang lain mengerti konsep yang ada di belakangnya. Hasilnya? Mungkin untuk beberapa hal (banyak hal umum, tepatnya), mereka tidak terlihat berbeda. Tapi, saat-saat tertentu, perbedaan mereka akan sangat terlihat dan pada saat itu anda akan berharap anda memiliki rekan seperti orang yang kedua.

Inti dari tulisan itu bukan membedakan mana yang jago dan mana yang tidak. Satu hal yang ditekankan di bagian akhir, perbedaan mendasar dari kedua tokoh dalam cerita adalah attitude mereka untuk belajar.

Read More…

Be Nice to Girls

Couple months ago, I got a weird email. It’s from one of my (virtually) close friend :D. Once I saw her name in the sender field and “[No Subject]” in the subject field, I instantly thought: “argh, this stupid girl clicked one of those spamware ads again and one more time I have to asked her to change her mail password so that I can be liberated from those spam mails”. However, when I clicked that mail and read its content, I am confused.

Basically, it sounds something like this:

Dear … (my-nick-name),

How are you? Thank you for the help that you’ve done for me. … (some stupid jokes we used to say to each other) …

I am fine here. I hope you’re also fine there. Anyway, good friend is hard to be found, you know.

There’s no need to reply this email, I am gonna delete it after I sent it.

God bless you!

What??? It sounds like she wants to commit suicide and just leave me a last note. LOL. So, I casually asked some of my other friends who I thought still in contact with her. No one heard something about her. Well, it’s fine then, so I just continue my sleep-eat-sleep-eat wonderful cycle life. Life must go on, right?

Couple weeks after that, my other friend asked me for that probably-a-suicide-wanna-be-girl‘s phone number. That other friend told me she needed her to do something for her company, blah…blah..blah…. I gave her number and I also send email to her mentioning about that matter. No reply. In my mind: where the hell are you??? Then, I remember I have to eat, then I went to sleep, then once again I continue my wonderful cycle life :D.

Read More…

Tak Malu Menjadi Kuli

Finally, saya tergabung juga dengan keluarga besar tenaga kerja indonesia (TKI). Well, since TKI identik dengan buruh/pembantu, beberapa orang yang merasa lebih keren sedikit memplesetkan jadi tenaga kerja intelektual. Whatever, intinya orang Indonesia yang mencari rezeki di negara lain juga toh. Percuma nih orang-orang yang meracuni otak saya dengan idealisme manis mahasiswa: “Jadilah entrepreneur” atau “Berbaktilah bagi bangsa dan negara”.

Celotehan-celotehan di sebagian besar seminar saat saya kuliah itu: Indonesia sudah terlalu banyak pengangguran, kamu mau lulus dan hanya menambah angka pencari kerja? Atau, yang keren: hanya dibutuhkan 2% entrepreneur untuk menjadikan bangsa ini bangsa yang maju (2% angka karangan saya, tepatnya sih saya lupa berapa, yang pasti kecil lha, lol). Ga heran banyak yang lulus dari kampus gajah merasa: “Gua ga mau banget deh kerja sama orang” dan memilih membuka usaha sendiri. Dari mulai usaha membuka software house sampai MLM. Intinya, amit-amit kerja sama orang.

Celotehan lain yang tak kalah banyaknya: Bangsa kita sudah terlalu lama dijajah bangsa asing ……. (sorry, ga tau sambungannya soalnya biasanya saya uda bobo tuh abis bagian itu, lol). Mungkin doktrinasi ini yang membuat banyak juga lulusan kampus gajah yang ga mau bekerja di perusahaan asing, terutama perusahaan asing yang mengeksploitasi habis negara Indonesia. Temannya teman saya misalkan, benar-benar ga mau mendaftar ke perusahaan yang bukan dimiliki orang Indonesia. Tapi, setelah beberapa tahun, hilang juga idealismenya.

Hal yang menarik adalah ada aja orang yang bilang “Ngapain kerja sama orang?” atau yang lebih parah “Kok mau-maunya sih jadi jongos?”. Biasanya kalimat sarkasme terakhir keluar untuk orang-orang yang kerja di perusahaan seperti perusahaan pengeruk emas di Papua atau sejenisnya. Intinya: kok mau diperas keringat buat keuntungan orang lain,  bangsa lain yang malah merugikan bangsa sendiri?

Mewakili jutaan orang di luar sana, saya bisa saja menjawab: uang. Tapi, ga seru lha, kalau gitu, tulisannya jadi pendek donk :D. So? Read More…

Supply Your Company with (a lot of) Food

Tiga tahun lalu, saya bertanya ke kakak saya: “Ga mau lanjut ambil S2?” Jawaban dia simpel: “Ga ah, uda bosen belajar.”

Bosen belajar itu kaya apa sih emang? Even, beberapa saat sebelum lulus kuliah dari kampus gajah, saya uda dengan pastinya mikir kalau saya masih mau lanjut belajar ke jenjang yang lebih tinggi. Jadi pelajar enak kan, ga usah mikir kerjaan, jatah libur yang super banyak, ga usah mikir disuru beli rumah sama ayah bunda, ga usa mikir disamperin bos gara-gara ga meet deadline. Intinya, kalaupun pelajar “berdosa”, kayanya lebih nyantai daripada para pegawai-karyawan di luar sana. Lebih dari itu, ya menurut saya, belajar itu menyenangkan. Selalu mengeksplorasi hal baru. Ga stuck di satu cubicle kecil di suatu ruangan di suatu gedung yang sama sekian tahun. That was my opinion.

Jreng-jreng, entah beruntung entah sial, saat merantau di negeri orang untuk menimba ilmu, saya mendapatkan pembimbing super jenius dan “baik” (perhatikan baik-baik peletakan tanda kutip pada kalimat in :D). Kayanya sih saya uda pernah bragging soal si profesor jenius ini di salah satu tulisan saya, tapi izinkan saya sekali lagi menyanjung beliau:

Dia jenius kuadrat. Lulus S1 dari NCTU, melanjutkan pendidikan selanjutnya di Stanford University, migrasi ke pantai Timur negeri paman saya demi mendapatkan M.Phil and Ph.D. dari Yale University, one of the Ivy League universities.

Dan, yap, si super jenius ini sukses membuat saya merasakan apa yang kakak saya katakan 3 tahun lalu. Nope, it’s worse. I am sick of it. Bahasa Indonesianya: Saya muak. Bukan muak belajar, belajar itu kan salah satu proses yang akan kita alami seumur hidup. Saya muak belajar di institusi pendidikan. Saya muak dengan segala aturan tetek bengek yang mengharuskan nilai ujian harus di atas X supaya kamu bisa dinyatakan lulus di satu subjek. Saya muak dengan keharusan belajar. Saya mau kok, tapi bukan berarti harus dipaksa kan. Well, pada akhirnya, meskipun mendapat tawaran Ph.D. yang sebenarnya cukup menggiurkan, akhirnya saya mendadah-babaikan juga dunia pendidikan formal. I’m done with formal study (or at least for now ;)).

Cerita di atas menjadi jembatan untuk masuk ke inti tulisan kali ini (intro kok panjang bener yah). So, now, I’m a working man and yes it’s somehow makes me afraid. Kalau masi sekolah kan enak, salah-salah paling dapet nilai jelek, ngulang, dkk. Kalau kerja, nanti bisa dipecat, ga dapet gaji, ga bisa makan, ga bisa kasi makan anak istri (ini sih jauh bener lho mikirnya). The first question for most of fresh grads: so, what’s your dream job? Read More…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 201 other followers

%d bloggers like this: