Winter Girlfriend
Di suatu tempat empat musim, pagi hari di musim dingin yang menusuk tulang belulang, terjadilah percakapan antar seorang pria dan seorang wanita.
Pria (P): Ugh, dinginnya. Mau ngumpet di bawah selimut terus ah.
Wanita (W): Haha, udah Winter jadi males yah..
P: Iya nih, butuh Winter girlfriend. Buat meluk, biar anget.
W: Eh, jadi kalo Summer ga mau punya pacar jadinya? Kan panas..
P: Butuh Summer girlfriend donk! Nemenin ke pantai, buat makein lotion.
W: Kalo Spring?
P: Spring girlfriend,buat ke hot spring bareng. Tapi, kalau Fall maunya sama kamu aja deh..
W: Kenapa kalau Fall sama aku?
P: Karena I’m falling in love with you.
W: -.-”
Di tempat berbeda, musim yang sama, dengan tambahan nyamuk di sekitar.
P: Aduh, aku diserang satu nyamuk nih. Ngisep darah lagi nyamuknya, jadi inget kamu deh.. (zzzz, sejak kapan nyamuk ngisep bensin? ini kok kebayang cewenya vampire yah?)
W: Lho, kenapa jadi inget aku?
P: Karena kamu selalu menghisap pikiranku…
W: Zzzzz…
Kesimpulan:
Musim dingin dan hisapan seekor nyamuk dapat menyebabkan gangguan otak.
Indonesia Tirai Besi Informasi?
Indonesia adalah negara demokrasi. Begitulah yang saya tahu. Di dalam negara demokrasi, menurut saya, kita berhak mengemukakan pendapat dan juga berhak mendapatkan informasi. Tentunya selama yang kita kemukakan dan lakukan tidak menggangu hak orang lain.
Ingat kasus sensor internet Indonesia setahun lalu? Menurut saya itu sudah mulai membatasi hak warga negara dalam mendapatkan informasi. Okay, silakan katakan yang disensor itu informasi yang tidak bermanfaat, pornografi misalnya. Tapi, saat suatu mekanisme sensor sudah diterapkan, siapa yang bisa menjamin hanya informasi tersebut saja yang dihilangkan? Siapa yang bisa menjamin konten-konten lain yang penting tidak ditutupi juga? Saya cenderung tidak percaya dengan sistem sensor, apapun alasannya.
Hal yang lain, kenapa konten yang dianggap buruk harus disensor? Kalau suatu universitas menyensor konten pada jaringan kampus, itu wajar. Kalau suatu perusahaan menyensor konten untuk jaringan kantornya, itu juga lumrah. Bahkan kalau di dalam rumah tangga, orang tua menerapkan sensor tersebut, itu juga biasa. Masalahnya, kalau suatu negara yang berpenduduk sekian ratus juta jiwa menerapkan sensor tersebut, saya pikir itu tindakan yang mengarah ke penutupan informasi publik.
Kalau alasannya moral dan agama. Indonesia bukan negara agama. Menurut saya aneh kalau hal-hal moral dan agama dimasukkan ke dalam aturan. Kalau alasannya pencegahan tindak kejahatan, anda tidak melarang penjualan pisau meskipun banyak terjadi kasus pembunuhan dan penyerangan dengan pisau toh? Dengan alasan yang sama, saya pikir anda tidak bisa menyensor suatu materi karena tindak kejahatan yang meningkat. Baik itu pornografi, ataupun informasi merakit bom dan membuat senjata api. Tidak dalam lingkup suatu negara, apalagi negara demokrasi.
Saya tidak tahu hukum apa yang melarang penduduk Indonesia mendapatkan informasi sebebas-bebasnya. Aneh. Tapi sepertinya ada. Saya agak terkejut melihat terms of services salah satu penyedia layanan VPN publik yang kurang lebih seperti berikut:
VPN atau virtual private network bisa dibilang salah satu cara ampuh melewati sekian barikade firewall ataupun sensor-sensor lainnya. Cara seperti ini efektif digunakan di negara-negara dengan tingkat penyensoran yang sangat tinggi (Republik Rakyat Cina maksudnya
), atau untuk membuka 9gag dan Facebook di kantor
.
Masalahnya, ini kenapa Indonesia masuk daftar hitam dari si penyedia? Kalau di tulisan itu dibilang “local norms and/or laws“, norma dan hukum apa yah? Aneh.
Kalau memang ada hukum-hukum seperti itu, kok makin lama Indonesia jadi tirai besi yah. Niatnya baik tapi tindakannya kok malah bikin kesel
.
Jadilah Yang Kamu Inginkan Saat Kamu Seorang Mahasiswa
Saat pertama saya di Institut Teknologi Bandung, seorang dosen berkata bahwa menjadi mahasiswa adalah sebuah kebebasan. Berapa banyak kebebasan yang bisa kita peroleh selama kita hidup ini?
Dua belas tahun di sekolah dasar dan menengah kita terikat aturan-aturan yang ketat. Tidak masuk sekian kali, orang tua kita dipanggil. Terlambat, kita disuruh berdiri di depan kelas. Tidak mengerjakan PR, 10 halaman harus kita salin sebagai hukumannya. Bukan hanya itu saja, ingat guru-guru yang berkeliling sambil membawa gunting? Bukan, bukan mau menggunting rumput. Rambut siswa yang melebihi kerah dan kuku-kuku panjang yang jadi sasarannya. Baju yang kita pakai pun harus sama, seragam. Alasannya sih biar ga terjadi kesenjangan sosial, takut ada yang pakai sepatu Nike sedangkan yang lain pake Niki.
Saat kita melepas status mahasiswa dan terjun ke dunia kerja, aturan-aturan pun tak kalah ketatnya saat kita sekolah. Emang sih, kita ga harus pake baju putih-merah, putih-biru, putih-abu lagi, tapi rata-rata kita harus masuk kantor dengan celana bahan dan kemeja berkerah dan tentunya sepatu. Beberapa perusahaan cukup menyenangkan dengan membebaskan kita datang dengan gaya apapun. Seorang teman saya bertahan di sebuah perusahaan start-up meskipun saya yakin dengan kemampuannya dia bisa mendapatkan penghasilan yang lebih besar dengan bekerja di perusahaan mapan. Saat ditanya, kebebasan bercelana pendek dan berkaos oblong jadi alasannya. Belum lagi aturan jam kerja yang sering kali membuat kita sakit kepala. Dulu saya bukan orang yang bisa bekerja nine-to-five. Pertama kali saya diminta datang setiap hari sebelum jam 8.20, ngeluhlah saya. Apa sih? Ga reasonable. Kerja itu bukan harusnya result-oriented yah? Kenapa jadi time-oriented gini? Mau protes? Ya ga bisa, aturannya udah kaya gitu.
I, Robot
Let’s start with the three fundamental Rules of Robotics….
One, a robot may not injure a human being, or through inaction, allow a human being to come to harm;
Two, a robot must obey the orders given by human beings except where such orders would conflict with the First Law;
Three, a robot must protect its own existence as long as such protection does not conflict with the First or Second Laws.– Isaac Asimov (1920 – 1992)
”I, Robot”
I look forward to the future where machines can do anything for human, and they surely will do anything for us. They have no feelings, feel no fear, feel no hope, and indeed cannot tear up our feeling.
Creating them does not obliterate our relationship with real human, it gives alternate resolution to the futile fake smiles, bogus laughs, and phony conversations.
